Beseprah di Hari ke 6 Erau Adat Kutai 2024, Implementasi Dari Kesetaraan Antara Pemerintah dan Masyarakat
Teks Foto : Suasana Beseprah yang digelar di jalan Diponegoro, depan Museum Mulawarman Tenggarong (Rizka/Media Mahakam)
mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Memasuki hari ke enam, perayaan Erau Adat Kutai tahun 2024 kali ini kembali dimeriahkan dengan tradisi Beseprah yang digelar di sepanjang Jalan Diponogoro, dan berpusat di depan Museum Mulawarman Tenggarong, Kamis (26/9/2024).
Tradisi Beseprah atau yang dalam bahasa Kutai artinya makan bersama sambil duduk bersila di atas tikar itu diselenggarakan Kesultanan Kutai Kertanegara Ing Martadipura. Dan dihadiri tidak hanya dari pihak Kesultanan, namun juga kerabat, para pejabat pemerintah kabupaten dan provinsi, hingga ribuan masyarakat Kukar.
Pada acara ini, masyarakat dan seluruh tamu undangan yang hadir disuguhkan berbagai makanan khas Kutai dan jajanan tradisional lainnya yang disusun di atas kain putih yang membentang sepanjang lebih kurang satu kilo meter mulai dari depan Kantor Kesbangpol Kukar hingga depan Pasar Seni. Tampak semuanya sangat antusias dan suasana makan bersama itu terasa hangat disertai canda tawa.
“Ini adalah tradisi yang ada sejak dulu, menyatu antara rakyat dan raja. Rakyat sangat antusias, masyarakat dari mana pun kita terima,” ucap Sultan Kutai Kertanegara Ing Martadipura ke-21, Aji Muhammad Arifin.
Hal ini tentunya sangat mengimplementasikan makna sebenernya dari Beseprah itu sendiri, yakni kesejajaran dalam setiap lapisan masyarakat di mana tidak adanya kasta sosial antara bangsawan dan pejabat dengan masyarakat biasa. Dan selain sebagai bentuk dari nilai kesatuan dan kebersamaan yang dimiliki masyarakat Kukar, tradisi Beseprah ini juga merupakan bentuk pelestarian kebudayaan lokal yang terus dijaga di tengah arus modernisasi saat ini.
Sementara itu, Pjs Bupati Kukar Bambang Arwanto menambahkan tradisi Beseprah ini hadir sebagai momen kebersamaan dan silaturahmi antara Kesultanan, pemerintah dan masyarakat tanpa memandang status sosial atau kasta. Di mana semuanya sama rata, sejajar, dan dapat makan dan duduk bersama menikmati hidangan yang disuguhkan.
“Dari tradisi ini juga dapat kita artikan bahwa Kesultanan dan pemerintah bersama masyarakat punya kedudukan sejajar dalam menikmati hasil-hasil pembangunan,” tutupnya. (rl)






