Toko Kopi Tana Tumbuh dari Lokasi Sementara Menjadi Ruang Nongkrong Favorit di Tenggarong
Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Berawal dari lokasi yang hanya direncanakan sebagai tempat usaha sementara, Toko Kopi Tana kini berkembang menjadi salah satu kedai kopi yang cukup dikenal di Kecamatan Tenggarong. Berlokasi di Jalan Diponegoro, Gang Koni, kedai tersebut mampu menarik sekitar 100 pengunjung setiap harinya dengan konsep yang sederhana dan membumi.
Pemilik Toko Kopi Tana, Azan, mengatakan usahanya mulai beroperasi pada 16 Desember 2025. Ia mengaku tidak menyangka lokasi yang awalnya hanya digunakan sementara justru berkembang dan mendapat respons positif dari masyarakat.
“Awalnya sementara saja, Mas. Tapi ternyata makin ke sini makin jalan, jadi akhirnya tetap di sini,” ujar Azan, pada Jumat (12/6/2026).
Menurutnya, sebelum membuka usaha di Gang Koni, ia telah merencanakan pembangunan kedai permanen di kawasan Jalan Jenderal Ahmad Yani, tepatnya di dekat rumah sakit baru. Berbagai persiapan telah dilakukan, mulai dari penyusunan desain bangunan hingga konsep pengembangan usaha.
Namun, perkembangan usaha yang cukup baik di lokasi saat ini membuat rencana tersebut ditunda.
“Kalau nanti ada rezeki, baru pindah ke lokasi yang direncanakan,” katanya.
Dalam menjalankan usahanya, Azan mengusung konsep kedai kopi yang sederhana dan nyaman. Ia ingin menghadirkan ruang yang dapat dinikmati semua kalangan tanpa harus mengikuti tren tertentu.
“Sebenarnya dari awal saya ingin konsep yang homie, nyaman seperti rumah sendiri. Tempat untuk orang minum kopi setiap hari, memenuhi kebutuhan kafein harian,” ujarnya.
Konsep tersebut juga menjadi dasar pemilihan nama Toko Kopi Tana. Menurut Azan, nama tersebut dipilih karena mencerminkan filosofi kedai yang membumi dan dekat dengan masyarakat.
“Saya ingin tempat ini membumi. Dari yang saya baca, kata ‘tanah’ berasal dari bahasa Dayak yang berarti tanah. Saya kemudian memilih penulisan ‘Tana’ sebagai identitas kedai ini,” tuturnya.
Selain mengedepankan suasana yang nyaman, Toko Kopi Tana juga memberikan perhatian terhadap kualitas produk. Salah satu menu yang paling diminati pelanggan adalah Es Kopi Susu Singga yang hingga kini menjadi minuman terlaris.
Kedai tersebut juga menyediakan berbagai pilihan specialty coffee, seperti Peach Americano dan Siberi Americano. Untuk kategori white coffee maupun black coffee, seluruhnya menggunakan biji kopi specialty pilihan.
“Khusus minuman seperti Americano dan white maupun black coffee, saya menggunakan biji kopi specialty,” ujar Azan.
Sementara itu, untuk kategori makanan, Lempeng Pisang menjadi menu yang paling banyak dipesan pelanggan. Selain itu tersedia pula Lumpia Siram dan Meriam Kari sebagai pelengkap sajian.
“Yang paling laris itu Lempeng Pisang,” katanya.
Perkembangan usaha Toko Kopi Tana terjadi secara bertahap. Pada masa awal operasional, sebagian besar pelanggan berasal dari kalangan teman dan relasi pribadi. Namun seiring waktu, promosi melalui media sosial dan rekomendasi pelanggan membuat jumlah pengunjung terus meningkat.
“Awalnya yang datang teman-teman saja. Namun lama-kelamaan ada yang membuat konten dan membagikannya, sehingga semakin ramai,” ujarnya.
Saat ini, jumlah penjualan minuman mencapai sekitar 100 cup per hari. Banyak pelanggan yang kembali berkunjung setelah kunjungan pertama mereka.
“Banyak juga yang datang lagi keesokan harinya, jadi mereka kembali lagi. Antusiasmenya cukup baik,” kata Azan.
Meski demikian, ia mengakui masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait ketersediaan bahan baku. Untuk kebutuhan kopi, Azan mendatangkan green bean dari Jawa, termasuk kopi Tanah Singga asal Malang yang diproses oleh rekan kerjanya.
Sementara untuk kebutuhan susu, pasokan berasal dari distributor. Keterbatasan stok yang tersedia sering kali menjadi kendala bagi usaha berskala kecil.
“Akibatnya terkadang saya hanya mendapat dua atau tiga karton. Jadi tantangan terbesar memang pasokan bahan baku,” ujarnya.
Menariknya, Azan tidak berasal dari latar belakang industri kopi. Ia merupakan lulusan Hubungan Internasional yang pernah menetap selama sekitar 14 tahun di Malang. Ketertarikannya terhadap kopi tumbuh selama berada di kota tersebut hingga akhirnya mempelajari dunia kopi secara mandiri sebagai home barista.
Sebelum mendirikan Toko Kopi Tana, ia sempat menjalankan berbagai usaha, mulai dari kafe, bisnis pakaian, hingga usaha kuliner. Keputusan kembali ke Tenggarong diambil setelah ibunya mengalami stroke mata.
Dari lokasi yang semula hanya dianggap sebagai persinggahan sementara, Toko Kopi Tana kini berkembang menjadi ruang berkumpul yang akrab bagi masyarakat. Dengan konsep sederhana dan suasana yang membumi, kedai tersebut terus berupaya menghadirkan pengalaman menikmati kopi yang nyaman bagi setiap pengunjung. (Zii)






