Ketika Harga Cup Plastik Naik, Kedai Kopi Mulai Mencari Cara Bertahan
Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Kenaikan harga bahan baku belakangan ini tidak hanya memengaruhi kebutuhan rumah tangga. Di balik segelas kopi yang tampak sederhana, pelaku usaha kedai kopi kini menghadapi tantangan baru, yakni melonjaknya harga kemasan plastik.
Bagi pelanggan, cup plastik mungkin hanya dianggap sebagai wadah minuman yang dibawa pulang. Namun bagi pemilik usaha, kemasan tersebut merupakan salah satu komponen operasional yang digunakan setiap hari dan jumlahnya tidak sedikit. Ketika harga cup naik, biaya yang harus dikeluarkan pelaku usaha pun ikut membengkak.
Fenomena ini mulai dirasakan sejumlah pelaku UMKM di Kutai Kartanegara, termasuk Toko Kopi Tana di Tenggarong. Meski biaya operasional meningkat, harga minuman di banyak kedai masih cenderung bertahan. Para pemilik usaha memilih menyerap kenaikan biaya tersebut agar pelanggan tidak langsung merasakan dampaknya.
Pemilik Toko Kopi Tana, Azan, mengaku hingga saat ini masih menahan kenaikan harga jual minuman meskipun harga kemasan plastik mengalami peningkatan.
“Untuk saat ini saya masih menahan kenaikan harga jual. Kenaikan harga plastik masih saya tanggung sendiri supaya harga ke konsumen tetap sama,” ujarnya, Senin (15/6/2026).
Kenaikan harga plastik sendiri tidak terjadi begitu saja. Produk plastik merupakan turunan minyak bumi sehingga pergerakan harga energi dunia turut memengaruhi biaya produksinya. Ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia juga berdampak pada rantai pasok bahan baku yang digunakan industri kemasan.
Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat di meja pelanggan. Namun bagi usaha kecil yang mengandalkan margin keuntungan terbatas, kenaikan harga kemasan dapat mengurangi ruang keuntungan yang selama ini menjadi penopang operasional harian.
Situasi ini memunculkan tren baru di kalangan pelaku usaha kuliner, yakni mencari alternatif yang lebih efisien. Jika sebelumnya layanan take away menjadi pilihan utama, kini penggunaan gelas untuk pelanggan yang menikmati minuman di tempat mulai dipertimbangkan sebagai cara menekan biaya.
“Kalau ke depan harga plastik terus naik, mungkin saya akan mengurangi penggunaan cup plastik dan beralih menggunakan gelas. Itu salah satu langkah yang paling mungkin dilakukan,” kata Azan.
Menariknya, di tengah tekanan harga kemasan, bahan baku utama kopi justru relatif stabil. Hal ini terutama dirasakan kedai yang menggunakan biji kopi lokal. Ketergantungan terhadap produk dalam negeri membuat mereka tidak terlalu terdampak gejolak harga komoditas impor.
Meski demikian, tantangan lain mulai muncul. Beberapa pelaku usaha mengaku kesulitan memperoleh stok susu yang menjadi salah satu bahan penting dalam berbagai menu minuman kekinian. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan industri kopi saat ini tidak hanya datang dari satu sisi, melainkan dari berbagai komponen rantai pasok.
Bagi konsumen, secangkir kopi mungkin masih dijual dengan harga yang sama seperti beberapa bulan lalu. Namun di baliknya, banyak pelaku usaha sedang berupaya menjaga keseimbangan antara biaya operasional yang terus meningkat dan keinginan mempertahankan harga tetap terjangkau. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, cup plastik yang tampak sederhana ternyata menjadi salah satu penentu keberlangsungan bisnis kopi skala kecil. (Zii)






