Harga Sembako Naik Saat Rupiah Melemah, Dompet Keluarga Kukar Kian Tertekan

Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Kenaikan harga bahan pokok mulai menjadi perhatian banyak keluarga di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Di tengah melemahnya nilai tukar rupiah dan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM), sejumlah kebutuhan sehari-hari seperti beras, minyak goreng, gula pasir, hingga sayur-sayuran mengalami lonjakan harga dalam beberapa bulan terakhir.

 

Bagi sebagian masyarakat, kenaikan harga yang berkisar Rp5 ribu hingga Rp6 ribu per komoditas mungkin terlihat kecil. Namun, jika terjadi pada beberapa kebutuhan pokok sekaligus, pengeluaran rumah tangga dapat meningkat cukup signifikan dalam satu bulan.

 

Kondisi tersebut paling terasa pada komoditas beras dan sayur-sayuran. Padahal, Kukar selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil padi terbesar di Kalimantan Timur.

 

Pengamat ekonomi Kalimantan Timur sekaligus dosen Universitas Mulawarman Samarinda, Purwadi Purwoharsojo, menilai situasi ini menjadi ironi karena Kukar masih bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah, mulai dari Sulawesi hingga Pulau Jawa.

 

“Yang agak unik memang, Kukar selama ini menjadi salah satu daerah penghasil padi terbesar di Kalimantan Timur. Kalau tidak salah, Kukar mampu menyuplai sekitar 47 persen kebutuhan beras di Kaltim,” ujarnya saat dihubungi melalui telepon WhatsApp, Senin (15/6/2026).

 

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Dengan kapasitas produksi yang dimiliki, Kukar seharusnya memiliki tingkat kemandirian pangan yang lebih kuat, terutama untuk komoditas beras.

 

“Harusnya dengan situasi itu Kukar bisa lebih mandiri soal pangan, khususnya beras. Tapi kenapa masih sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah, ini yang perlu dievaluasi,” katanya.

 

Purwadi menjelaskan, kenaikan harga kebutuhan pokok tidak hanya berdampak pada pola belanja masyarakat, tetapi juga dapat mengubah prioritas pengeluaran keluarga. Ketika biaya pangan meningkat, ruang untuk kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan, hingga tabungan menjadi semakin sempit.

 

Ia menilai pemerintah perlu segera mencari akar persoalan yang menyebabkan kenaikan harga. Berbagai faktor perlu ditelusuri, mulai dari biaya logistik, ongkos transportasi, distribusi pasokan, hingga dampak langsung kenaikan harga BBM.

 

“Harus jelas penyebabnya, apakah karena logistik mahal, biaya transportasi naik, pengiriman dari luar daerah terganggu, atau karena faktor lain seperti kenaikan harga BBM,” ujarnya.

 

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa tekanan ekonomi yang berlangsung terus-menerus dapat berdampak pada kelompok masyarakat kelas menengah yang baru mulai membangun stabilitas keuangan.

 

“Kelompok masyarakat yang baru saja naik ke kelas menengah bisa turun lagi karena pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok. Karena itu pemerintah harus segera turun tangan, jangan menunggu viral baru bergerak,” katanya.

 

Menurut Purwadi, langkah yang paling mendesak saat ini adalah memastikan kondisi pasar secara langsung melalui inspeksi lapangan. Dengan begitu, penyebab kenaikan harga dapat diketahui secara akurat dan solusi yang diambil lebih tepat sasaran.

 

“Jangan sampai ini menjadi pukulan berikutnya bagi masyarakat. Rupiah tidak baik-baik saja, sembako naik, BBM naik. Ini bisa menjadi pukulan berantai, terutama bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah,” pungkasnya. (Zii)