Tren Skincare Minimalis Bukan Sekadar Hemat, Penelitian Ungkap Dampaknya pada Psikologi Pengguna
Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Di tengah maraknya tren perawatan kulit yang menawarkan berbagai tahapan dan produk, muncul pendekatan yang justru mengajak masyarakat untuk menyederhanakan rutinitas skincare. Tren yang dikenal sebagai skinimalism atau skincare minimalis ini tidak hanya memengaruhi cara seseorang merawat kulit, tetapi juga berdampak pada kondisi psikologis dan perilaku konsumsi.
Skinimalism merupakan konsep penggunaan produk perawatan kulit yang lebih sedikit, dengan fokus pada kebutuhan utama kulit. Pendekatan ini semakin populer di media sosial karena dianggap lebih praktis, ekonomis, dan membantu mengurangi risiko iritasi akibat penggunaan terlalu banyak produk.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal Communication Spectrum pada 2024 menemukan bahwa tren skinimalism berpengaruh signifikan terhadap perubahan perilaku konsumen dalam membeli produk skincare. Studi tersebut menunjukkan bahwa individu yang mengikuti konsep ini cenderung mengurangi jumlah produk yang digunakan dan lebih selektif dalam memilih produk berkualitas.
Dari sisi psikologis, gaya hidup minimalis yang menjadi dasar skinimalism juga dikaitkan dengan meningkatnya kesadaran terhadap nilai-nilai pribadi dan pengambilan keputusan yang lebih terarah. Penelitian mengenai minimalisme dan kesejahteraan menunjukkan bahwa penyederhanaan berbagai aspek kehidupan dapat membantu seseorang merasa lebih fokus dan memiliki pengalaman hidup yang lebih bermakna.
Para peneliti menemukan bahwa pengguna skinimalism sering kali merasakan kepuasan karena tidak lagi terdorong untuk terus mencoba banyak produk baru. Kondisi ini dapat mengurangi tekanan psikologis yang muncul akibat tren kecantikan yang berubah-ubah dan ekspektasi untuk selalu mengikuti produk terbaru.
Media sosial turut berperan dalam penyebaran tren ini. Berbeda dengan kampanye pemasaran yang mendorong konsumsi lebih banyak produk, skinimalism justru mempromosikan penggunaan produk secukupnya. Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana media sosial dapat memengaruhi perilaku konsumen, baik untuk meningkatkan maupun mengurangi konsumsi.
Selain memberikan rasa tenang karena rutinitas yang lebih sederhana, skinimalism juga membantu pengguna menghemat pengeluaran. Berkurangnya kebutuhan membeli banyak produk membuat sebagian orang merasa lebih nyaman secara finansial dan tidak lagi khawatir harus terus mengikuti tren kecantikan yang berkembang cepat.
Penelitian lain di Indonesia menunjukkan bahwa tren skincare saat ini semakin mengarah pada penggunaan formula yang lebih sederhana dan fokus pada efektivitas. Konsumen mulai mencari produk yang benar-benar sesuai kebutuhan kulit dibanding sekadar mengikuti popularitas suatu produk di media sosial.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa skincare minimalis bukan berarti mengabaikan perawatan kulit. Rutinitas dasar seperti membersihkan wajah, menggunakan pelembap, dan tabir surya tetap menjadi fondasi penting untuk menjaga kesehatan kulit.
Fenomena skinimalism menunjukkan bahwa tren kecantikan kini tidak hanya berbicara soal penampilan, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan mental, kesadaran konsumsi, dan pencarian gaya hidup yang lebih sederhana. Bagi sebagian orang, merawat kulit dengan lebih sedikit produk justru menghadirkan rasa nyaman yang lebih besar dalam kehidupan sehari-hari. (zii)






