Benarkah Makanan Pedas Bisa Bikin Mood Lebih Baik? Ini Temuan Penelitian
Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Bagi sebagian orang, menyantap makanan pedas bukan sekadar soal rasa. Sensasi panas yang muncul setelah menggigit cabai sering kali justru menghadirkan kepuasan tersendiri. Tak sedikit pula yang mengaku suasana hati menjadi lebih baik setelah menikmati hidangan bercita rasa pedas. Ternyata, anggapan tersebut memiliki dasar ilmiah.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan pedas dapat memicu respons biologis yang berkaitan dengan suasana hati. Kandungan utama pada cabai, yaitu capsaicin, diketahui mampu mengaktifkan reseptor rasa panas di dalam tubuh. Otak kemudian menganggap sensasi tersebut sebagai rangsangan yang memicu pelepasan endorfin, yakni hormon yang berperan dalam menciptakan rasa nyaman dan mengurangi persepsi terhadap rasa sakit.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrients menjelaskan bahwa capsaicin tidak hanya berpengaruh terhadap metabolisme tubuh, tetapi juga memiliki potensi memengaruhi sistem saraf melalui berbagai mekanisme biologis. Efek tersebut diduga berkontribusi terhadap munculnya rasa senang atau puas setelah mengonsumsi makanan pedas.
Temuan serupa juga disampaikan para peneliti dari Pennsylvania State University. Mereka menemukan bahwa makanan pedas dapat meningkatkan sensasi kenikmatan makan karena memicu respons fisiologis seperti peningkatan denyut jantung, keluarnya keringat, hingga pelepasan endorfin. Respons inilah yang membuat sebagian orang merasakan efek “bahagia” setelah menyantap hidangan bercita rasa pedas.
Selain endorfin, beberapa penelitian menyebut konsumsi cabai juga dapat memengaruhi pelepasan dopamin, senyawa kimia di otak yang berkaitan dengan sistem penghargaan atau reward system. Meski efeknya relatif ringan dan bersifat sementara, pelepasan dopamin dapat memberikan perasaan puas setelah berhasil menghadapi sensasi pedas.
Namun, para ahli menegaskan bahwa respons setiap orang terhadap makanan pedas tidaklah sama. Faktor genetik, kebiasaan makan, hingga tingkat toleransi terhadap capsaicin sangat menentukan pengalaman yang dirasakan. Orang yang terbiasa mengonsumsi makanan pedas cenderung menikmati sensasinya, sedangkan mereka yang jarang mengonsumsi cabai justru bisa mengalami rasa tidak nyaman.
Di sisi lain, konsumsi makanan pedas secara berlebihan juga tidak selalu memberikan manfaat. Bagi sebagian individu, terutama yang memiliki gangguan lambung, penyakit refluks asam lambung (GERD), atau usus sensitif, makanan pedas dapat memicu keluhan seperti nyeri ulu hati, perut mulas, hingga gangguan pencernaan. Kondisi tersebut justru dapat menurunkan kenyamanan dan suasana hati.
Para peneliti menyimpulkan bahwa makanan pedas memang berpotensi memberikan efek positif terhadap suasana hati melalui pelepasan endorfin dan dopamin. Namun, manfaat tersebut bukan berarti makanan pedas dapat dijadikan terapi untuk mengatasi stres, kecemasan, maupun gangguan kesehatan mental. Efeknya bersifat sementara dan berbeda pada setiap individu.
Karena itu, menikmati makanan pedas tetap disarankan dalam batas yang wajar serta disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing. Dengan porsi yang tepat, sensasi pedas bukan hanya memperkaya cita rasa makanan, tetapi juga dapat menjadi pengalaman kuliner yang menyenangkan. (Zii)






