Hetifah Soroti Isu Pengelolaan Sampah, Fasilitasi Workshop di Kalimantan TimurKutai
Kartanegara, 26 Juni 2026 – Merespond urgensi isu pengelolaan sampah, Hetifah memfasilitasi Workshop Sistem Pangan Cerdas “Solusi Mengatasi Food Loss dan Food Waste” di Pendopo Wakil Bupati Kukar bekerjasama dengan BRIN dan Universitas Kutai Kartanegara (UNIKARTA) yang dihadiri oleh berbagai perwakilan antara lain; BRIDA Kukar, Ketua TPS3R, mahasiswa, desa, PKK, Bappeda, dinas pertanian, dinas lingkungan hidup, dosen, media dan masyarakat.
Mengawali paparannya, Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menegaskan bahwa Indonesia masih menghadapi kehilangan dan pemborosan pangan di berbagai tahapan rantai pasok. Di sisi lain, masih terdapat masyarakat yang belum memperoleh akses terhadap pangan bergizi secara memadai. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan produksi pangan harus diikuti dengan pengelolaan yang lebih efisien agar hasil produksi dapat dimanfaatkan secara optimal.
Menurut Hetifah, Kutai Kartanegara memiliki prasyarat yang kuat untuk mengembangkan sistem pangan cerdas. Kabupaten ini merupakan salah satu lumbung pangan di Kalimantan Timur, memiliki potensi pada sektor pertanian, perikanan, dan peternakan, serta menjadi daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). Oleh karena itu, peningkatan nilai tambah produk pangan lokal perlu diiringi dengan upaya mengurangi kehilangan hasil produksi dan pemborosan pangan.
Melanjutkan pembahasan tersebut, Peneliti Senior BRIN Dr. Teguh menjelaskan bahwa food loss dan food waste merupakan dua bentuk kehilangan pangan yang terjadi pada tahapan berbeda dalam rantai sistem pangan. Food loss terjadi sebelum pangan sampai kepada konsumen akibat penanganan pasca panen, penyimpanan, transportasi, maupun proses pengolahan yang belum optimal. Adapun food waste terjadi ketika pangan yang telah tersedia untuk dikonsumsi tidak dimanfaatkan dan akhirnya dibuang oleh konsumen.
Menurut Teguh, kehilangan dan pemborosan pangan tidak hanya mengurangi ketersediaan pangan, tetapi juga menimbulkan dampak terhadap lingkungan, sosial, dan ekonomi. Oleh karena itu, pengurangannya perlu dilakukan melalui penerapan sistem pangan cerdas yang bertumpu pada tiga pilar, yaitu produksi cerdas, distribusi cerdas, dan konsumsi cerdas.
Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Ince Raden, M.P. memaparkan kondisi timbulan sampah di Kalimantan Timur berdasarkan data komposisi sampah pada sepuluh kabupaten dan kota selama periode Januari–Desember 2025. Data tersebut menunjukkan bahwa Kutai Kartanegara mencatat proporsi sisa makanan sebesar 34,58 persen, yang merupakan angka terendah dibandingkan kabupaten dan kota lain di Kalimantan Timur.
Meskipun demikian, Ince Raden menegaskan bahwa sisa makanan masih menjadi salah satu komponen utama timbulan sampah rumah tangga. Menurutnya, perilaku konsumsi yang tidak disesuaikan dengan kebutuhan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pangan berakhir sebagai sampah. Karena itu, pengurangan pemborosan pangan memerlukan perubahan perilaku masyarakat dalam merencanakan, mengolah, dan mengonsumsi pangan secara lebih bijaksana.
Menutup acara, Hetifah berpesan untuk mendukung transformasi inj, ia mengemukakan empat pendekatan strategis, yaitu mengurangi timbunan sampah sejak dari sumbernya, menerapkan prinsip ekonomi sirkular, memperluas pemanfaatan teknologi dan inovasi, serta meningkatkan partisipasi masyarakat.






