Suara Hujan hingga Bisikan Lembut, Benarkah ASMR Bisa Membantu Meredakan Kecemasan?

Bunyi hujan yang jatuh perlahan, suara halaman buku yang dibalik, ketukan jari di meja kayu, atau suara seseorang berbicara dengan nada lembut. Bagi sebagian orang, suara-suara sederhana itu terasa menenangkan. Belakangan, konten semacam ini semakin populer di media sosial dan dikenal sebagai Autonomous Sensory Meridian Response atau ASMR.

Video ASMR kini menjadi teman sebelum tidur bagi banyak anak muda. Ada yang memutarnya saat belajar, bekerja, bahkan ketika merasa cemas setelah menjalani hari yang melelahkan. Sensasi tenang yang muncul membuat banyak orang percaya bahwa ASMR bukan sekadar tren internet.

Dilansir dari penelitian An Examination of the Default Mode Network in Individuals with Autonomous Sensory Meridian Response (ASMR) yang dipublikasikan dalam jurnal Social Neuroscience, ASMR merupakan pengalaman sensorik yang ditandai dengan sensasi kesemutan menyenangkan yang biasanya dimulai dari kepala lalu menjalar ke bagian tubuh lain. Penelitian tersebut menunjukkan adanya perbedaan pola konektivitas otak pada individu yang mengalami respons ASMR.

Sementara itu, penelitian The Default Mode Network and ASMR: Neural Correlates of Relaxation and Sensory Experience menunjukkan bahwa ASMR memiliki hubungan dengan kondisi relaksasi dan penurunan tingkat ketegangan psikologis.

Temuan yang lebih dekat dengan kondisi emosional ditemukan dalam studi An fMRI Investigation of the Neural Correlates Underlying the Autonomous Sensory Meridian Response (ASMR) yang mengamati bahwa ASMR berkaitan dengan aktivasi area otak yang berhubungan dengan emosi, penghargaan, dan keterhubungan sosial.

Penelitian lain yang diterbitkan dalam PLOS One berjudul More than a Feeling: Autonomous Sensory Meridian Response (ASMR) Is Characterized by Reliable Changes in Affect and Physiology menemukan bahwa individu yang mengalami respons ASMR menunjukkan penurunan detak jantung dan peningkatan emosi positif selama mengonsumsi konten ASMR. Temuan ini menunjukkan adanya efek fisiologis yang berkaitan dengan rasa tenang.

Meski begitu, para peneliti menekankan bahwa ASMR bukan pengobatan untuk gangguan kecemasan. Respons terhadap ASMR juga berbeda pada setiap orang. Sebagian orang merasakan ketenangan yang nyata, sementara yang lain mungkin tidak merasakan perubahan apa pun.

Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah kehidupan digital yang semakin ramai, manusia tampaknya tetap mencari hal-hal sederhana untuk menenangkan diri. Kadang bukan suara yang keras atau hiburan yang penuh distraksi yang dicari, melainkan suara kecil yang membuat pikiran perlahan menjadi lebih sunyi.

Karena bagi sebagian orang, rasa tenang ternyata bisa datang dari hal sesederhana suara hujan yang diputar berulang kali di tengah malam. (Zii)