Spirit Sultan AM Idris Digaungkan, Generasi Muda Kukar Diajak Lawan Masa Depan
Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Semangat perjuangan Sultan Aji Muhammad Idris kembali digaungkan kepada generasi muda melalui Forum Diskusi Publik Harbuknas dan Harkitnas 2026 yang digelar di Tangga Arung Square (TAS), Tenggarong, Senin (18/05/26). Forum tersebut menjadi ruang literasi sejarah yang mengingatkan masyarakat bahwa Tanah Kutai pernah melahirkan sosok pejuang besar yang rela meninggalkan singgasananya demi membela Nusantara.
Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, menilai nilai patriotisme Sultan AM Idris masih sangat relevan di tengah tantangan generasi muda saat ini. Menurutnya, perjuangan tidak lagi berbentuk peperangan fisik melawan penjajah, melainkan perjuangan menghadapi masa depan.
“Hari ini kita memang tidak berperang melawan penjajah, tapi kita berperang melawan masa depan,” ujarnya.
Aulia mengaku memiliki kedekatan emosional dengan sosok Sultan AM Idris setelah mempelajari sejarah perjuangannya melalui buku pengusulan gelar pahlawan nasional. Ia menilai keberanian Sultan AM Idris meninggalkan kenyamanan demi membantu perlawanan terhadap VOC menjadi keteladanan penting bagi generasi muda Kukar.
“Beliau sebenarnya memiliki zona nyaman yang luar biasa. Tapi ketika diminta membantu melawan VOC, beliau meninggalkan semuanya demi membela tanah kelahirannya,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun rasa bangga terhadap identitas daerah agar generasi muda tidak tumbuh dengan mental minder terhadap sejarahnya sendiri.
“Kalau bahasa orang dulu jangan ekstra kecoka, jangan minder,” ucapnya disambut tepuk tangan peserta diskusi.
Sebagai bentuk penguatan identitas sejarah Kutai, Pemkab Kukar mulai mengabadikan nama Sultan AM Idris pada sejumlah fasilitas publik, termasuk rumah sakit daerah. Aulia menilai pengenalan sejarah lokal juga perlu diperkuat melalui pendidikan di sekolah.
“Saya sepakat nama beliau harus terus digaungkan. Muatan lokal di sekolah juga harus bicara tentang Sultan Aji Muhammad Idris supaya anak-anak bangga mengatakan mereka cucu Sultan Aji Muhammad Idris,” tegasnya.
Dalam forum bertajuk “Pahlawan Nasional Sultan Aji Muhammad Idris; Spirit Masa Silam dan Teladan Masa Kini” itu, budayawan Kalimantan Timur Muhammad Sarip menegaskan Sultan AM Idris bukan hanya tokoh Kesultanan Kutai Kartanegara, melainkan figur besar Nusantara dengan jejak perjuangan melampaui Kalimantan Timur.
“Sultan Aji Muhammad Idris adalah tokoh pejuang, dengan jejak sejarah membantu Sultan Wajo berperang melawan VOC, sebuah perusahaan dagang yang ingin merampas kedaulatan Nusantara pada abad ke-18,” ujarnya.
Sarip menyebut terdapat tiga aspek utama keteladanan Sultan AM Idris, yakni sebagai tokoh kultural Kutai, pejuang anti-penjajahan, dan tokoh dakwah Islam yang inklusif. Ia juga menyebut Sultan AM Idris dikenal sebagai tokoh intelektual Islam yang berperan dalam penyusunan kitab konstitusi kesultanan.
“Beliau juga merupakan tokoh intelektual Islam. Ada riwayat yang menyatakan kitab konstitusi kesultanan Panji Salatin hingga Undang-Undang Beraja Nanti disusun pada masa Sultan Aji Muhammad Idris,” jelasnya.
Menurut Sarip, luas wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara pada masa lalu membuktikan besarnya pengaruh kerajaan tersebut di Kalimantan Timur, termasuk kawasan yang kini menjadi Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Ketika bicara Balikpapan, Samarinda, Bontang, Kutai Timur, Kutai Barat, bahkan kawasan IKN, itu dahulu bagian dari wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara,” tegasnya.
Sementara itu, Pemuda Pelopor Kaltim 2024 bidang pendidikan, Ada Al Ali Murrabbaniah, menilai semangat Sultan AM Idris dapat diwujudkan generasi muda melalui perjuangan di bidang masing-masing, mulai dari pendidikan hingga kontribusi sosial.
“Saya yakin pemuda-pemuda lain dapat menerapkan jiwa kepemimpinan yang sama dengan Sultan Aji Muhammad Idris dalam kehidupannya,” tuturnya.
Ketua SMSI Kukar, Angga Triandi, berharap forum tersebut mampu membuka wawasan generasi muda terhadap sejarah perjuangan Sultan AM Idris sebagai pahlawan nasional asal Kutai dan Kalimantan Timur.
“Dari Sultan Aji Muhammad Idris memiliki nilai perjuangan dan kepemimpinan yang masih relevan sampai hari ini. Apalagi kita masih dalam semangat Hari Kebangkitan Nasional, literasi ini yang mesti diterapkan kepada pemuda jaman sekarang,” katanya.
Kegiatan yang diselenggarakan Lasaloka KSB bersama SMSI Kutai Kartanegara itu diikuti pelajar, mahasiswa, jurnalis, komunitas literasi, hingga sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Kukar. Di akhir kegiatan, para narasumber menerima plakat berbahan hasil daur ulang sebagai simbol bahwa pelestarian sejarah dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan. (Zii)






