Mengapa Orang Kini Suka Wisata Alam Sunyi? Ternyata Bukan Sekadar Tren, tapi Kebutuhan Mental

Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Di tengah hiruk pikuk kota, notifikasi ponsel yang tak henti berbunyi, hingga tuntutan pekerjaan yang terus bertambah, semakin banyak orang justru memilih destinasi wisata yang jauh dari keramaian. Hutan, pegunungan, danau terpencil, hingga pantai yang sepi kini menjadi pilihan favorit dibanding tempat wisata yang padat pengunjung.

Fenomena ini ternyata bukan sekadar mengikuti tren media sosial. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa keinginan mencari tempat yang sunyi berkaitan erat dengan kebutuhan tubuh dan pikiran untuk beristirahat.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Sustainability menemukan bahwa berada sendirian di ruang terbuka hijau atau alam mampu memberikan pengalaman positive solitude, yaitu kondisi ketika seseorang menikmati kesendirian secara sukarela. Dalam suasana tersebut, alam membantu seseorang mengurangi stres, memulihkan energi mental, serta memberi ruang untuk refleksi diri.

Hal senada juga ditemukan dalam penelitian mengenai wisata alam dan kesehatan mental. Studi tersebut menunjukkan bahwa kunjungan ke destinasi alam secara signifikan mampu menurunkan tingkat stres dan kecemasan. Suasana alami dengan suara air, pepohonan, dan udara segar membantu tubuh memasuki kondisi relaksasi yang sulit diperoleh di lingkungan perkotaan.

Para peneliti menyebut bahwa alam bekerja layaknya “reset” bagi otak. Saat berada di lingkungan alami, perhatian manusia tidak terus dipaksa fokus pada berbagai rangsangan seperti kendaraan, iklan, atau notifikasi digital. Akibatnya, kemampuan konsentrasi dan kejernihan berpikir perlahan pulih.

Tak heran jika kini muncul istilah slow travel atau perjalanan yang lebih mengutamakan kualitas pengalaman dibanding banyaknya destinasi yang dikunjungi. Wisatawan tidak lagi mengejar daftar lokasi sebanyak mungkin, tetapi memilih tinggal lebih lama di satu tempat untuk benar-benar menikmati suasana.

Perubahan pola pikir ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, terutama setelah pandemi. Banyak orang mulai menyadari bahwa liburan tidak selalu harus dipenuhi aktivitas padat. Duduk di tepi danau, berjalan di jalur hutan, atau menikmati matahari terbit di perbukitan justru dianggap lebih menyegarkan dibanding menghabiskan waktu di lokasi yang penuh antrean dan kebisingan.

Menariknya, penelitian juga menemukan bahwa efek menenangkan dari wisata alam dapat berkurang ketika lokasi tersebut terlalu ramai. Keramaian, kepadatan pengunjung, hingga kebisingan membuat manfaat psikologis yang seharusnya diperoleh menjadi tidak optimal. Karena itu, wisatawan mulai berburu destinasi yang masih alami dan belum terlalu populer.

Tren ini sekaligus menjadi pengingat bahwa bagi banyak orang, liburan bukan lagi soal mencari hiburan semata. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, wisata alam sunyi telah berubah menjadi cara sederhana untuk mengembalikan keseimbangan pikiran, mengurangi kelelahan mental, dan memberi ruang bagi diri sendiri sebelum kembali menghadapi rutinitas sehari-hari. (Zii)