Self-Reward Setelah Gajian, Bentuk Apresiasi Diri atau Awal Perilaku Konsumtif?

Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Momen gajian sering kali identik dengan satu istilah yang kini akrab di kalangan pekerja muda, yakni self-reward. Mulai dari menikmati kopi favorit, membeli pakaian baru, hingga berburu promo di marketplace, semua dianggap sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras selama satu bulan.

Fenomena ini semakin mudah ditemukan, terutama di era media sosial yang dipenuhi konten “healing habis gajian”, “checkout sebagai hadiah untuk diri sendiri”, hingga tren berburu diskon saat tanggal muda. Namun, apakah kebiasaan tersebut benar-benar baik bagi kesehatan mental, atau justru menjadi pintu masuk perilaku konsumtif?

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jawabannya bergantung pada bagaimana seseorang memaknai dan mengendalikan kebiasaan tersebut.

Kajian literatur yang diterbitkan dalam jurnal PARS: Psychology and Social Science pada 2025 menjelaskan bahwa self-reward pada dasarnya merupakan bentuk apresiasi terhadap usaha dan pencapaian diri. Kebiasaan ini dapat meningkatkan suasana hati, menumbuhkan rasa syukur, mengurangi stres, serta menjaga kesehatan mental apabila dilakukan secara proporsional.

Namun, penelitian yang sama mengingatkan bahwa self-reward juga dapat berubah menjadi pembenaran untuk berbelanja secara impulsif ketika kemampuan mengendalikan diri mulai melemah. Apalagi saat seseorang terpapar promosi media sosial, diskon kilat (flash sale), hingga berbagai kemudahan transaksi digital.

Fenomena tersebut semakin relevan di Indonesia, mengingat berbagai layanan pembayaran digital dan buy now pay later (BNPL) membuat proses belanja menjadi semakin mudah dilakukan hanya dalam hitungan detik.

Penelitian lain yang dipublikasikan pada 2026 menemukan bahwa motivasi belanja yang bersifat hedonis memiliki hubungan positif dengan kecenderungan melakukan impulsive buying. Sebaliknya, kemampuan mengendalikan diri menjadi faktor penting yang mampu menekan dorongan membeli barang yang sebenarnya tidak direncanakan.

Temuan ini sejalan dengan penelitian klasik dalam Journal of Consumer Psychology yang menunjukkan bahwa seseorang cenderung memberi “hadiah” kepada dirinya setelah merasa telah bekerja keras atau berhasil menahan keinginan berbelanja sebelumnya. Perasaan layak mendapatkan hadiah tersebut sering menjadi alasan psikologis yang membuat seseorang lebih mudah mengeluarkan uang.

Di sisi lain, para peneliti menegaskan bahwa self-reward tidak selalu identik dengan menghabiskan uang. Bentuk penghargaan terhadap diri bisa berupa beristirahat tanpa rasa bersalah, menikmati waktu bersama keluarga, membaca buku, menonton film favorit, berolahraga, atau melakukan hobi yang memberikan kepuasan emosional tanpa harus menguras isi dompet.

Psikolog konsumen menyebut keseimbangan menjadi kunci utama. Mengapresiasi diri setelah bekerja keras merupakan hal yang sehat, tetapi tetap perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan, tujuan menabung, dan prioritas jangka panjang.

Dengan kata lain, menikmati secangkir kopi setelah gajian bukanlah masalah. Yang perlu diwaspadai adalah ketika alasan “aku pantas mendapat hadiah” berubah menjadi pembenaran untuk membeli apa pun tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial.

Pada akhirnya, self-reward akan memberikan manfaat apabila benar-benar menjadi bentuk penghargaan terhadap diri, bukan sekadar pelarian emosional yang berujung pada kebiasaan konsumtif. (Zii)