Petani Milenial Kaltim Ajak Pemuda Bangun Bisnis Pertanian dari Nol, Lawan Stigma Bertani Itu Kuno

Sekretaris Petani Milenial Kaltim, Bayu Dwi

Kukar – Organisasi Petani Milenial Kalimantan Timur (Kaltim) terus mengupayakan regenerasi di sektor pertanian dengan mengajak generasi muda membangun bisnis pertanian dari nol. Gerakan ini bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang berangkat dari semangat dan inisiatif para pemuda yang peduli akan masa depan pertanian di daerahnya.

Sekretaris Petani Milenial Kaltim, Bayu Dwi, menegaskan bahwa gerakan ini tidak didorong oleh kekuatan modal atau dukungan politik besar, melainkan murni dari keinginan untuk membangun ekosistem pertanian yang melibatkan generasi muda.

“Sebenarnya kami ini tidak punya power besar. Kami cuma ingin mengajak teman-teman yang tertarik, ayo sama-sama membangun bisnis di bidang pertanian melalui organisasi ini,” ujar Bayu, pada Minggu (20/07/2025).

Menurutnya, anggapan bahwa pemuda tidak tertarik bertani adalah sebuah stigma yang perlu diluruskan. Nyatanya, setelah dijaring, masih banyak pemuda yang punya minat di bidang pertanian, bahkan sudah mulai mengembangkan usahanya sendiri meski dalam skala kecil.

“Dulu kita kira anak muda sekarang gak ada yang mau bertani. Tapi setelah dicari-cari, ternyata ada juga yang sudah berjalan. Ada yang memang baru memulai, ada juga yang sudah bertani duluan dan bisa dibilang cukup berhasil,” jelasnya.

Bayu mengakui bahwa sektor pertanian memang penuh tantangan, apalagi bagi generasi muda yang lebih akrab dengan dunia digital dan industri kreatif. Namun, bagi mereka yang serius, pertanian tetap menyimpan potensi besar, terutama jika dikelola dengan pendekatan bisnis yang modern.

“Memang tidak mudah, pertanian itu banyak tantangannya, dari cuaca, modal, sampai pasar. Tapi di balik itu semua, peluangnya juga besar kalau dijalankan dengan inovasi. Nah, disinilah kami mencoba mendorong teman-teman agar tidak takut memulai,” kata Bayu.

Ia menambahkan, melalui organisasi ini, para pemuda diberikan ruang untuk berbagi pengalaman, belajar bersama, dan saling mendukung dalam membangun usaha pertanian, meskipun dimulai dari skala kecil.

Lebih lanjut, Bayu mencontohkan perjalanan salah satu rekannya, Wahyu yang saat ini menjadi Petani Milenial di Kabupaten Kutai Kartanegara (KukarH awalnya hanya mengadakan kegiatan kecil-kecilan di bidang pertanian. Namun, karena konsistensi dan keseriusannya, kini kegiatan tersebut mulai mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah.

“Beberapa tahun lalu, kita mulai bergerak bareng-bareng, bikin kegiatan kecil. Lama-lama mulai kelihatan hasilnya. Nah, baru setelah itu pemerintah mulai melirik dan memberi dukungan,” ceritanya.

Ia menekankan bahwa dukungan pemerintah menjadi penting, tapi inisiatif harus datang dari para pemuda sendiri. “Kalau pemudanya tidak memulai, tidak ada yang akan melihat. Kita harus bergerak dulu, baru setelah itu dukungan datang,” tambah Bayu.

Terakhir, dirinya berkata, Petani Milenial Kaltim ingin membangun ekosistem bisnis pertanian yang lebih kuat dan modern, di mana pemuda tidak hanya fokus pada produksi, tapi juga mengelola pemasaran, pengolahan hasil pertanian, hingga menciptakan produk turunan yang bernilai tambah.

“Harapannya, pertanian ini tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan tradisional semata, tapi bisa menjadi bisnis yang menjanjikan. Ini yang ingin kami bangun di kalangan pemuda,” harap Bayu.