Petani Margahayu Kukar Krisis Regenerasi, Sunadi Harap Pemerintah Bantu Teknologi Pertanian Modern
Lahan Pertanian di Kecamatan Loa Kulu.
Kukar – Sektor pertanian di Desa Margahayu, Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara (Kukar) tengah menghadapi tantangan serius. Bukan sekadar persoalan infrastruktur, namun krisis regenerasi petani menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para pelaku di lapangan.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Margahayu, Sunadi, menyebutkan bahwa semakin sedikit generasi muda yang berminat meneruskan profesi sebagai petani.
“Petani milenial di sini sangat minim. Generasi muda sekarang lebih memilih bekerja di perusahaan daripada turun ke sawah. Mereka menganggap bertani itu susah, tidak menjanjikan, dan kalah gengsi dibanding pekerjaan lain,” ujar Sunadi, pada Senin (04/08/2025).
Di tengah tantangan regenerasi, petani di Margahayu juga dihadapkan pada keterbatasan alat dan teknologi modern. Sunadi menegaskan, kondisi ini membuat produktivitas pertanian berjalan kurang optimal.
“Lahan sawah yang saya tangani di sini hampir 360 hektare. Tapi untuk mesin tanam padi dan alat panen (combine harvester), kami belum punya. Padahal di daerah lain, alat seperti itu sudah umum digunakan,” jelasnya.
Upaya pengajuan bantuan alsintan modern sebenarnya sudah dilakukan oleh Gapoktan Margahayu melalui proposal ke Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar. Ia berharap pemerintah dapat lebih responsif terhadap kebutuhan mendasar yang akan berdampak langsung pada efisiensi kerja petani.
“Harapan kami, proses pengajuan bantuan bisa dipermudah, terutama yang betul-betul dibutuhkan petani. Kalau teknologi pertanian lebih modern, tentu akan lebih menarik bagi anak muda untuk terjun ke sektor ini,” tambahnya.
Meski demikian, Sunadi mengapresiasi perhatian pemerintah dalam pembangunan infrastruktur dasar pertanian. Program normalisasi sungai, pembangunan irigasi, hingga semenisasi parit dinilai sangat membantu kelancaran aktivitas petani.
“Alhamdulillah, untuk irigasi dan infrastruktur lainnya, sudah banyak yang terealisasi. Tinggal bagaimana melengkapi dengan teknologi yang bisa meningkatkan hasil panen,” ungkapnya.
Krisis regenerasi petani yang dihadapi Desa Margahayu bukan hanya soal pola pikir generasi muda, namun juga tentang bagaimana pemerintah mampu menghadirkan ekosistem pertanian yang efisien dan menguntungkan.






