Petani Maluhu Hadapi Tantangan Baru di Lahan Sayur

Teks : Lurah Maluhu, Tri Joko Kuncoro

Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Kelurahan Maluhu, Kecamatan Tenggarong, mulai menatap babak baru dalam geliat pertanian warganya.

Lahan tidur yang selama ini dibiarkan, kini kembali diolah menjadi kebun sayur yang rimbun oleh tangan petani setempat. Harapan akan panen yang melimpah mengiringi musim tanam ini.

Namun, optimisme tersebut kini bersisian dengan rasa waswas. Di tengah semangat warga menggarap tanah, muncul ancaman yang tak disangka: monyet liar dari hutan sekitar mulai kerap turun dan merusak tanaman hortikultura di kebun-kebun baru.

“Gangguan ini mulai berdampak pada hasil panen, terutama di lahan-lahan yang baru dibuka untuk budidaya tanaman hortikultura,” ungkap Lurah Maluhu, Tri Joko Kuncoro, Jumat (15/8/2025).

Serangan satwa tersebut tak hanya menimpa satu atau dua kebun. Pakcoy dan sayuran lain menjadi sasaran, terutama di lahan yang berdekatan dengan tepian hutan. Aktivitas ini membuat beberapa petani khawatir modal dan tenaga yang mereka keluarkan akan terbuang sia-sia.

Menurut Tri Joko, persoalan ini bermula ketika warga mulai menggarap lahan tidur secara masif.

“Masalah ini muncul seiring meningkatnya aktivitas pertanian warga yang mulai menggarap lahan tidur. Namun, di sisi lain, pembukaan lahan itu juga menyebabkan habitat satwa terganggu,” jelasnya.

Gangguan tersebut dinilai cukup merugikan, apalagi sejumlah kebun masih dalam tahap uji coba budidaya. Tri Joko mengingatkan perlunya pengawasan lebih ketat untuk mencegah panen berkurang drastis.

“Kami akui bahwa hama monyet ini cukup mengganggu, khususnya terhadap tanaman sayur kami. Karena itu, lahan pertanian perlu terus diawasi,” tegasnya.

Beberapa opsi penanganan sudah dibicarakan bersama warga, seperti memelihara anjing penjaga atau menyalakan petasan untuk menakuti monyet. Meski begitu, langkah tersebut masih terbatas dan belum diadopsi secara merata.

“Kami sangat mempertimbangkan faktor hati nurani dalam penanganannya. Jangan sampai tindakan yang kami ambil justru menimbulkan dampak yang tidak diinginkan,” tuturnya.

Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kepentingan pertanian dan kelestarian alam. Dengan posisi Maluhu yang berdekatan dengan kawasan hutan alam, pendekatan humanis menjadi pilihan utama.

“Kini pengelolaan lingkungan di Maluhu dilakukan secara bertahap. Banyak lahan tidur yang mulai dihidupkan kembali sebagai kebun sayur, namun tantangan ekologis seperti ini harus dihadapi dengan kepala dingin,” tambahnya.

Harapan terbesar Tri Joko adalah terjaganya harmoni antara hasil tani dan keberlangsungan ekosistem.

“Pembukaan lahan memang berdampak pada terganggunya ekosistem, tapi itu kami lakukan secara perlahan dan hati-hati,” pungkasnya. (advdiskominfokukar/zii)