Pertanian Jadi Peluang Menjanjikan bagi Anak Muda yang Berani Terjun Langsung

Ketua Petani Milenial Kukar, Wahyu Kurnianto.

Kukar – Menekuni sektor pertanian kini bukan lagi pilihan terakhir, melainkan peluang usaha yang menjanjikan bagi generasi muda yang berani turun ke lapangan. Pasalnya, ditengah kelangkaan pangan dan naiknya harga komoditas, pertanian menjadi sektor strategis dengan potensi ekonomi yang nyata.

Omzet hingga ratusan juta per bulan bukan mustahil dicapai jika dikelola secara serius. Hal ini dibuktikan oleh salah satu pelaku muda di Kukar yang telah merambah usaha pertanian, kehutanan, hingga perkebunan. Bahkan, sektor peternakan pun kini mulai ia garap karena dinilai
memiliki permintaan konsumsi harian yang stabil.

“Insya Allah, saya sendiri petani milenial. Per bulan omzet saya itu sekitar seratus juta,” ujar Wahyu Kurnianto, Ketua Petani Milenial Kutai Kartanegara (Kukar), pada Senin (21/07/2025).

Ia meyakini bahwa pertanian adalah investasi jangka panjang yang sudah mulai dilirik para pemilik modal besar di berbagai negara.

Menurutnya, anak muda seharusnya tidak lagi memandang remeh dunia tani, sebab peluang justru terbuka luas bagi mereka yang mau beraksi, bukan sekadar merancang strategi di atas kertas.

“Plan penting, tapi jangan terlalu banyak plan. Aksi nyata wajib,” tegasnya.

Wahyu juga menyoroti kondisi harga gabah yang saat ini tembus Rp800 ribu per kuintal sebagai gambaran potensi pasar yang sangat besar.

Ia menyebut kelangkaan pangan sebagai momentum emas bagi petani milenial untuk mengambil peran dan menjawab tantangan.

“Kenapa harga gabah naik? Karena terjadi kelangkaan pangan. Di situlah sebenarnya potensi yang harus dimanfaatkan,” ujarnya.

Dorongan kepada kawula muda pun terus ia suarakan agar tidak ragu terjun ke bidang ini. Namun ia menegaskan, daya tarik utama tetap harus ditopang oleh kepastian nilai ekonomi yang bisa diandalkan.

“Ayo kita turun. Saya yakinkan, bidang pertanian ini memiliki nilai ekonomi yang baik,” ujarnya.

Menurutnya, peran petani milenial bukan hanya bertani, tapi juga membaca peluang dan memetakan sektor-sektor yang saling terhubung dalam satu ekosistem usaha.

“Harus juga terjun di bidang peternakan yang konsumsinya adalah seharian,” tutup Wahyu.