“PERKAKAS DIRI” Bukan Sekadar Program, Ini Kata Ketua TP PKK Kukar

Teks : Ketua TP PKK Kukar, Andi Deezca Pravidhia Aulia Rahman Basri

Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Di tengah riuh tepuk tangan dan senyuman di ruang Balai Pertemuan Umum (BPU) Kecamatan Tenggarong, ada kalimat yang mengendap lama di benak hadirin “Perempuan kepala keluarga itu Wonder Woman di dunia nyata.”

Ungkapan itu meluncur tulus dari Ketua Tim Penggerak PKK Kutai Kartanegara (Kukar), Andi Deezca Pravidhia Aulia Rahman Basri, saat membuka kegiatan Launching Inovasi PERKAKAS DIRI (Perempuan Kepala Keluarga Berkualitas dan Mandiri), Senin (28/7/2025).

Tapi bagi para perempuan yang hadir, itu bukan sekadar pujian melainkan pengakuan yang selama ini jarang mereka dapatkan.

Di balik launching tersebut, tersembunyi persoalan luar biasa bahwa Kukar memiliki 46.099 kepala keluarga perempuan, dan 2.316 di antaranya berada di Tenggarong.

Mereka menjalani hari-hari sebagai ibu, pencari nafkah, pengatur rumah tangga, pelindung anak-anak, dan satu-satunya tempat berpulang. Dalam diam, mereka memikul beban dua kali lipat, tapi seringkali hanya dipandang setengah.

“Perempuan kepala keluarga bukan hanya sekadar istilah administratif. Mereka adalah tiang rumah yang berdiri sendiri. Kita tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan ini,” ucap Andi Deezca lantang, menyampaikan keresahannya yang disambut anggukan para peserta.

Program PERKAKAS DIRI, yang digagas Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kukar, bukan hanya soal pelatihan olahan ikan atau pencatatan data gender.

Program ini adalah titik balik dari narasi lama tentang ketergantungan perempuan, ini adalah panggung baru yang memperlakukan perempuan sebagai agen perubahan, bukan beban bantuan.

“Kita ingin ibu-ibu ini tidak hanya bertahan, tapi bangkit dan berkembang. Kita ingin mereka memiliki pilihan. Karena selama ini mereka hanya punya kewajiban,” tegasnya.

Andi Deezca menyebut bahwa kegiatan seperti ini sejalan dengan visi Kukar Idaman Terbaik dan amanah konstitusi. Namun lebih dari itu, ia menyuarakan keprihatinan yang selama ini jarang terdengar, kesetaraan bukan sekadar data atau slogan, melainkan soal hidup sehari-hari, soal harga diri, soal masa depan anak-anak dari para PEKKA (Perempuan Kepala Keluarga).

“Kita ingin perempuan-perempuan ini percaya bahwa mereka pantas. Pantas dihargai. Pantas berhasil. Pantas didampingi,” ujarnya.

Ia juga mendorong sinergi lintas pihak agar gerakan ini tidak berhenti di forum pelatihan, tetapi menjelma menjadi dukungan sistematis yang memutus rantai kemiskinan struktural.

“Kalau kita sungguh ingin daerah ini maju, maka majukanlah perempuan-perempuan yang menopangnya. Karena kalau perempuan diberdayakan, maka satu generasi akan ikut terselamatkan,” tutupnya. (Zii)