Nada Tradisi yang Tumbuh dari Tangan Anak Muda Kutai

teks : penyerahan sertifikat HKI kepada Petala Borneo

Mediamahakam, KUTAI KARTANEGARA – Dari tangan anak-anak muda Tenggarong, musik tradisi Kutai menemukan napas barunya. Petala Borneo, kelompok musik berbasis tradisi, menghadirkan album Bunga Hati Bertemu sebagai ruang perjumpaan antara kisah-kisah lokal Kutai dengan semangat musikal generasi hari ini.

Founder dan Komposer Petala Borneo, Achmad Fauzi akrab disapa Oji, mengatakan album tersebut lahir dari kecintaan pada budaya sendiri. Bersama rekan-rekannya, ia ingin membuktikan bahwa musik tradisi tidak harus berhenti sebagai kenangan masa lalu, tetapi dapat terus bergerak dan relevan bagi anak muda.

“Sejak awal Petala Borneo memang berbasis musik tradisi. Kami ingin cerita-cerita lokal Kutai tetap hidup, tapi dikemas dengan rasa yang dekat dengan anak muda,” ujar Oji saat diwawancarai pada Rabu (21/1/2026).

Album Bunga Hati Bertemu memuat 12 lagu berbahasa Kutai yang mengangkat beragam kearifan lokal. Di dalamnya tersimpan kisah Museum Mulawarman, adat Naik Ayun, kain Ulap Doyo, hingga aktivitas masyarakat pesisir Kutai Kartanegara. Seluruh proses kreatif mulai dari penulisan lagu, rekaman, hingga produksi dikerjakan secara mandiri oleh anak-anak muda Tenggarong dengan waktu kurang dari satu tahun.

Meski berangkat dari kisah-kisah lawas dan tradisi bahari, Petala Borneo sengaja menghadirkan warna musikal yang lebih segar. Unsur tingkilan dan keroncong tradisi dipadukan dengan sound kekinian agar tetap enak didengar dan mampu menjangkau generasi muda.

“Walaupun ceritanya lawas, gaya bermusik dan sound-nya kami sesuaikan dengan selera anak muda. Harapannya lagu-lagu ini bisa masuk ke playlist Gen Z,” kata Oji.

Upaya tersebut perlahan mendapat respons positif. Lagu-lagu Petala Borneo kini dapat dinikmati di berbagai platform musik digital seperti Spotify, YouTube Music, dan Apple Music, serta media sosial. Bahkan, album Bunga Hati Bertemu sempat diperdengarkan dalam salah satu kegiatan Kementerian Kebudayaan di Solo yang diikuti peserta dari 10 provinsi.

“Mereka kaget, ternyata di Kutai ada lagu-lagu seperti ini dan yang menggarapnya anak-anak muda. Selama ini lagu daerah identik dengan orang-orang yang sudah berumur,” ujarnya.

Di tengah perjalanan karya tersebut, hadir pula bentuk apresiasi dari pemerintah daerah. Melalui Program Pengembangan Kesenian Tradisional, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Kartanegara memfasilitasi pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk karya-karya Petala Borneo. Dari 12 lagu dalam album Bunga Hati Bertemu, sebanyak 11 lagu didaftarkan dan diserahkan sertifikatnya pada Senin (19/1/2026) lalu, sementara satu lagu telah lebih dulu terdaftar.

“Awalnya kami merasa mengerjakan semuanya sendiri. Ternyata pemerintah punya ruang untuk mengapresiasi karya seperti ini, dan itu menambah semangat kami,” tutur Oji.

Ia menilai, pendampingan tersebut bukan sekadar perlindungan karya, tetapi juga pengakuan bahwa musik tradisi yang digarap anak muda memiliki nilai dan masa depan. Apalagi, karya-karya Petala Borneo juga mulai diperbincangkan sebagai bagian dari upaya menjaga basis warisan budaya tak benda, khususnya Tingkilan.

Bagi Oji, yang terpenting bukan semata pengakuan, melainkan keberlanjutan semangat berkarya. Ia berharap, langkah yang ditempuh Petala Borneo dapat menjadi pemantik bagi anak-anak muda lainnya untuk berani mencipta dari akar tradisinya sendiri.

“Jangan hanya memainkan karya orang lain. Ciptakan karya sendiri, supaya ada yang ditinggalkan dan ada yang diwariskan. Karena pada akhirnya, karya itulah yang akan berbicara,” pungkasnya. (Zii)