Membaca Buku Fisik Kembali Diminati, Penelitian Ungkap Alasannya
Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Di tengah dominasi gawai dan buku digital, minat masyarakat terhadap buku fisik ternyata kembali meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini terlihat dari meningkatnya penjualan buku cetak di sejumlah negara dan munculnya tren membaca yang ramai dibagikan di media sosial. Sejumlah penelitian mengungkap bahwa buku fisik menawarkan pengalaman yang sulit digantikan oleh layar digital.
Dilansir dari penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Psychology, membaca buku fisik membantu pembaca memahami dan mengingat informasi dengan lebih baik dibandingkan membaca melalui layar. Hal ini karena pembaca dapat merasakan posisi teks secara fisik di dalam buku, sehingga otak lebih mudah membangun peta memori terhadap isi bacaan.
Penelitian tersebut menemukan bahwa sensasi membalik halaman, melihat ketebalan buku yang telah dibaca, hingga posisi paragraf pada halaman tertentu memberikan petunjuk visual dan spasial yang membantu proses pemahaman. Faktor ini tidak sepenuhnya dimiliki oleh perangkat digital.
Sementara itu, studi dari peneliti di University of Stavanger menunjukkan bahwa siswa yang membaca teks dalam bentuk cetak cenderung memperoleh hasil pemahaman bacaan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang membaca teks yang sama melalui layar komputer.
Selain faktor pemahaman, banyak pembaca mengaku memilih buku fisik karena memberikan pengalaman yang lebih nyaman dan minim gangguan. Ketika membaca melalui ponsel atau tablet, notifikasi media sosial, pesan instan, dan aplikasi lain sering kali memecah konsentrasi. Buku fisik memungkinkan pembaca lebih fokus pada isi bacaan tanpa interupsi digital.
Dilansir dari laporan tahunan Publishers Association, penjualan buku cetak masih menunjukkan performa yang kuat meskipun industri digital terus berkembang. Banyak pembaca muda bahkan mulai menjadikan aktivitas membaca buku fisik sebagai bagian dari gaya hidup yang mendukung kesehatan mental.
Fenomena ini juga didorong oleh tren slow living yang berkembang di kalangan generasi muda. Membaca buku fisik dianggap sebagai cara untuk beristirahat dari paparan layar yang mendominasi aktivitas sehari-hari, mulai dari bekerja, belajar, hingga bersosialisasi.
Penelitian lain yang diterbitkan dalam Journal of Environmental Psychology menemukan bahwa interaksi langsung dengan benda fisik dapat meningkatkan keterikatan emosional. Aroma kertas, tekstur sampul, hingga koleksi buku yang tersusun di rak menciptakan pengalaman personal yang tidak selalu ditemukan dalam format digital.
Media sosial turut berperan dalam kebangkitan buku fisik. Komunitas pembaca seperti BookTok dan Bookstagram membuat aktivitas membaca kembali terlihat menarik dan relevan bagi generasi muda. Banyak pengguna membagikan rekomendasi buku, ulasan, serta koleksi rak buku yang menginspirasi orang lain untuk kembali membeli buku cetak.
Meski buku digital menawarkan kemudahan akses dan portabilitas, berbagai penelitian menunjukkan bahwa buku fisik tetap memiliki keunggulan tersendiri. Kemampuan meningkatkan fokus, membantu pemahaman bacaan, serta memberikan pengalaman sensorik yang lebih kaya menjadi alasan utama mengapa buku fisik kembali diminati di era digital saat ini. (Zii)






