Lapas Tenggarong Wujudkan Asta Cita Lewat Kemandirian dan Ketahanan Pangan

teks : Kepala Lapas Kelas IIA Tenggarong, Suparman

Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Dari lahan seluas 500 meter persegi di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tenggarong, kehidupan baru tumbuh subur. Kangkung, timun, lele, hingga bebek petelur menjadi saksi upaya para warga binaan menghidupkan kembali makna kemandirian, sejalan dengan semangat Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang kini berusia satu tahun.

Tak sekadar simbol, Lapas Tenggarong menjadi salah satu Unit Pelaksana Teknis yang paling aktif menerjemahkan 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto. Program ini mendorong pembinaan warga binaan agar tak berhenti pada hukuman, tetapi berlanjut pada pemberdayaan.

Kepala Lapas Kelas IIA Tenggarong, Suparman, menuturkan pihaknya berupaya mendukung program tersebut dengan langkah-langkah nyata, baik dalam hal keamanan, pembinaan, maupun kontribusi ekonomi.

“Kami berkomitmen untuk mendukung penuh pelaksanaan Asta Cita dan 13 Program Akselerasi. Semua langkah kami arahkan untuk itu,” ujarnya.

Dari sisi keamanan, sebanyak 49 kali razia dilakukan sepanjang setahun terakhir. Razia itu meliputi kegiatan insidentil, terjadwal, hingga gabungan bersama aparat penegak hukum lainnya.

Selain itu, sebanyak 130 narapidana telah dipindahkan ke sejumlah Lapas di Balikpapan dan Samarinda untuk mengurangi tingkat overkapasitas.

“Pemindahan ini berdasarkan hasil assessment risiko yang kami lakukan, agar keamanan dan pembinaan tetap terjaga,” imbuh Suparman.

Sementara itu, 434 warga binaan telah kembali ke masyarakat setelah mendapatkan hak Pembebasan Bersyarat (PB) dan Cuti Bersyarat (CB). Di sisi lain, upaya pemberdayaan terus digalakkan melalui pembentukan Satuan Tugas Ketahanan Pangan yang memastikan program berjalan efektif.

Dalam satu tahun terakhir, hasil panen ketahanan pangan Lapas Tenggarong mencapai 95 kilogram telur bebek, 145 kilogram kangkung, 167 kilogram timun, dan 51 kilogram lele.

Tak hanya itu, kegiatan meubelair, barbershop, dan usaha jasa lainnya juga dikembangkan sebagai bagian dari pembinaan kemandirian warga binaan.

“Dari kegiatan ini, kami mampu menghasilkan PNBP sekitar Rp15 juta, sementara premi untuk warga binaan yang bekerja mencapai Rp22 juta,” ungkapnya.

Terbaru, Lapas Tenggarong menggandeng sejumlah mitra strategis melalui program proyek perubahan bertajuk Sinergi Enam Hati (SEHAT) yang diinisiasi Suparman pada 14 Oktober 2025.

Program ini mengusung konsep hexahelix atau kolaborasi multipihak untuk memperkuat ketahanan pangan, tak hanya di dalam Lapas tetapi juga bagi masyarakat Kutai Kartanegara.

“Dengan mengusung konsep hexahelix, saya berharap program ketahanan pangan ini bisa dirasakan manfaatnya tidak hanya oleh warga binaan, namun juga oleh masyarakat sekitar,” pungkas Suparman.

(Zii)