Kementerian Bentuk Petani Milenial Kaltim, 36 Pemuda Resmi Jadi Agen Regenerasi di 10 Kabupaten/Kota
Sekretaris Petani Milenial Kaltim, Bayu Dwi
Kukar – Pemerintah pusat melalui kementerian terkait terus memperkuat upaya regenerasi petani di berbagai daerah, termasuk di Kalimantan Timur (Kaltim), dengan membentuk organisasi Petani Milenial Kaltim. Organisasi ini dibentuk untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian yang selama ini kerap dianggap kurang diminati oleh anak-anak muda.
Sekretaris Petani Milenial Kaltim, Bayu Dwi, menjelaskan bahwa organisasi ini bermula dari inisiatif Kementerian yang secara khusus memilih pemuda-pemuda yang sudah aktif di bidang pertanian, baik di sektor hulu maupun hilir.
“Awalnya kami dipilih oleh kementerian, bukan hanya mereka yang bergerak di budidaya tanaman saja, tapi juga yang mengelola hasil pertanian hingga ke proses hilirisasi. Jadi, cakupannya cukup luas,” ungkap Bayu, pada Minggu (20/07/2025).
Setelah melalui proses pembentukan, para pemuda ini kemudian dilantik secara resmi oleh Kementerian. Mereka diberi mandat untuk menjaring lebih banyak lagi generasi muda yang memiliki minat di dunia pertanian, baik yang baru mau memulai maupun yang sudah lebih dulu berjalan.
“Setelah dilantik, kami diberi tugas untuk mencari teman-teman pemuda yang punya ketertarikan di bidang pertanian. Tidak harus yang sudah ahli, yang penting punya kemauan dan mau belajar. Itu yang kita himpun,” tambahnya.
Hingga saat ini, di Kalimantan Timur, tercatat sudah ada 36 orang pemuda yang resmi mendapatkan Surat Keputusan (SK) sebagai anggota Petani Milenial. Mereka tersebar di 10 kabupaten/kota di seluruh Kaltim, dengan minimal satu perwakilan di setiap daerah.
“Jumlah ini memang masih terbatas, tapi setidaknya sudah ada kader di masing-masing daerah yang bisa menjadi penggerak awal. Tugas kami sekarang adalah memperluas jaringan dan memperkuat sinergi dengan kelompok-kelompok petani yang sudah ada,” jelas Bayu.
Program ini juga menjadi salah satu langkah konkret pemerintah untuk menghadapi krisis regenerasi petani yang menjadi ancaman serius bagi masa depan sektor pertanian Indonesia. Bayu menuturkan, isu tentang minimnya minat pemuda di sektor pertanian memang menjadi perhatian utama.
“Kalau tidak ada regenerasi, siapa nanti yang akan melanjutkan? Makanya kementerian melihat potensi anak muda yang masih mau dan berani terjun ke pertanian harus difasilitasi,” kata Bayu.
Ia menambahkan, tantangan utama saat ini bukan hanya soal minat, tetapi juga soal mindset dan akses. Banyak pemuda yang sebenarnya tertarik namun masih bingung memulai dari mana, atau terbentur persoalan modal dan pasar.
Lebih jauh, Bayu menegaskan, pembentukan Petani Milenial Kaltim bukan sekadar formalitas atau pencitraan semata. Para anggota yang telah mendapat SK ini diharapkan mampu menjadi agen perubahan di daerahnya masing-masing, sekaligus motor penggerak munculnya inovasi-inovasi baru di sektor pertanian.
“Kita berharap ini tidak berhenti di SK saja. Teman-teman yang sudah terpilih harus bisa menjadi contoh, sekaligus membantu membuka jalan bagi pemuda lain yang mau ikut terjun ke dunia pertanian. Kita ingin membuktikan bahwa bertani itu punya masa depan, asalkan dijalankan dengan semangat dan inovasi,” pungkasnya.






