Drama Kolosal Semangat Juang Sultan Aji Muhammad Idris Bawa Nuansa Baru di Pembukaan Erau 2025

Teks : Pemain Drama Kolosal pada pembukaan erau 2025 di Stadion Rondong Demang

Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Suasana Stadion Rondong Demang mendadak hening sebelum riuh tepuk tangan membahana. Dari langit, burung merpati melayang indah, sementara di lapangan para penari bergerak serempak menghidupkan drama kolosal bertajuk Semangat Juang Sultan Aji Muhammad Idris. Pertunjukan tersebut menjadi sorotan utama pada pembukaan Erau Adat Kutai Kartanegara Ing Martadipura 2025, Minggu (21/9/2025).

 

Suguhan itu bukan sekadar hiburan. Ia adalah simbol keteguhan marwah Tanah Kutai, sekaligus bukti eksperimen seni yang terus berkembang. Di balik kemegahan panggung, Yayasan Terminal Olah Seni (TOS) yang dipercaya menggarap acara pembukaan, bekerja dalam waktu singkat.

 

“Alhamdulillah, tahun lalu kami bisa menampilkan kapal. Tahun ini kami kembali berhasil membuat penonton terkesima, salah satunya melalui karya lagu-lagu yang disajikan dengan aliran berbeda namun tetap mempertahankan sentuhan musik khas Kutai,” ujar Ketua Yayasan TOS, Deprianur.

 

Jika tahun lalu 800 penari memenuhi lapangan, tahun ini hanya 400. Meski jumlah berkurang separuh, instalasi artistik yang dipasang berhasil menutup celah. Semua penari tampil penuh di lapangan, memberi ilusi panggung yang padat dan megah.

 

“Alhamdulillah meski latihannya sulit, pertunjukan hari ini berjalan sangat baik. Burung merpati pun melayang indah, sungguh luar biasa,” lanjutnya.

 

Namun, kemeriahan itu tidak datang tanpa tantangan. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, 2025 menjadi momentum pertama drama kolosal dipilih menggantikan tari massal. Dengan hanya 28 hari latihan, seleksi penari dilakukan sangat ketat.

 

“Anak-anak yang terlibat adalah putra-putri terbaik Tanah Kutai,” tutur Deprianur.

 

Drama kolosal yang dipentaskan mengangkat kisah Sultan Aji Muhammad Idris, sosok yang menjaga marwah Ibu Pertiwi dalam melawan penjajahan. Dengan judul Semangat Juang Sultan Aji Muhammad Idris, pertunjukan ini merepresentasikan semangat juang yang diyakini masih mengalir dalam darah pemuda Kutai hari ini.

 

Meski sukses, Deprianur tak menutup mata atas keterbatasan. Ia menyebut garapan tahun ini dijalankan dengan menurunkan kadar konsep hingga empat kali lipat dibanding rancangan awal. Hal itu menyesuaikan dengan anggaran pemerintah yang terbatas.

 

“Jika tahun depan kami kembali diberi kesempatan dengan dukungan anggaran yang lebih maksimal, kami bisa menyiapkan konsep awal yang lebih besar. Kami berharap acara Erau berikutnya bisa lebih membludak, bahkan setara dengan skala SEA Games,” ungkapnya.

 

Dua tahun terakhir, TOS memang giat bereksperimen dengan format pertunjukan. Dari kapal raksasa tahun lalu hingga drama kolosal tahun ini, arah baru seni pertunjukan Kutai mulai menemukan bentuknya.

 

“Tahun ini kami menargetkan kesenian Kutai naik kelas, dan hari ini terbukti kesenian Kutai benar-benar naik kelas,” pungkas Deprianur.