Dihantui Banjir Tahunan, Petani Loa Duri Ulu Hanya Bisa Garap Setengah Lahan

Ketua Kelompok Tani Karya Bersama, Supardi.

Kukar – Masalah banjir musiman masih menjadi tantangan utama bagi petani di Desa Loa Duri Ulu, Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara (Kukar). Hal ini diungkapkan Ketua Kelompok Tani (Poktan) Karya Bersama, Supardi, yang menyebut banjir rutin di wilayah aliran Sungai Mahakam menyebabkan banyak lahan pertanian tidak lagi produktif.

Lokasi pertanian warga yang berada tidak jauh dari Sungai Mahakam membuat area persawahan rentan tergenang air. Supardi menjelaskan bahwa kondisi pasang surut yang ekstrem sering kali terjadi selama berminggu-minggu dan berdampak langsung pada keberlangsungan kegiatan pertanian.

“Kalau bicara pertanian di wilayah bawah sini, terutama di Loa Duri Ulu, memang untuk pertanian padi itu kurang potensial. Salah satu kendala utamanya adalah banjir yang kerap melebihi ambang batas,” ungkap Supardi, pada Rabu (04/06/2025).

Menurutnya, dalam sepekan air bisa terus pasang, lalu sepekan berikutnya surut, menyebabkan ketidakpastian yang merugikan petani. Biaya operasional pun ikut membengkak karena petani harus mengeluarkan lebih banyak untuk pupuk dan pengendalian hama.

“Kondisi ini sangat merusak potensi pertanian, terutama dari sisi biaya operasional. Kita jadi boros,” tambahnya.

Supardi menyebut total luas lahan kelompoknya sekitar 34 hektare, namun hanya sekitar 15 hektare yang masih aktif ditanami padi. Sementara sisanya dibiarkan tidak tergarap karena risiko banjir dan persoalan kepemilikan lahan.

“Beberapa lahan seperti yang berada di seberang atau pinggir Mahakam dulunya rawa-rawa dan sempat dibuka. Tapi karena sebagian sudah dikapling oleh pemilik lahan dan ada kekhawatiran batas tanah tergeser, akhirnya banyak yang enggan mengelola,” jelasnya.

Untuk lahan yang masih digarap, hasil panen padi diperkirakan mencapai sekitar 4 ton. Saat ini, sebagian besar petani memilih fokus mengelola lahan pribadi masing-masing karena lebih terjamin keamanannya dari segi batas dan kepemilikan.

Kondisi ini menunjukkan pentingnya perhatian lebih dari pemerintah daerah dalam menyediakan solusi jangka panjang terhadap persoalan banjir, baik melalui infrastruktur pengendalian air maupun skema pertanian adaptif bagi wilayah rawan genangan seperti di Loa Duri Ulu.