Terlalu Lama Menatap Layar Ponsel? Studi Ungkap Dampaknya terhadap Kesehatan Mata
Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Ponsel telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari bekerja, belajar, mencari hiburan, hingga berkomunikasi, hampir semua aktivitas kini dilakukan melalui layar berukuran beberapa inci tersebut. Namun, di balik kemudahannya, ada konsekuensi yang mulai banyak diteliti para ilmuwan, yakni dampak penggunaan layar ponsel terhadap kesehatan mata.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa menatap layar ponsel dalam waktu lama memang tidak secara langsung merusak struktur mata. Akan tetapi, kebiasaan tersebut dapat memicu berbagai keluhan yang dikenal sebagai digital eye strain atau kelelahan mata akibat penggunaan perangkat digital.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Ophthalmic and Physiological Optics menjelaskan bahwa penggunaan layar digital dalam durasi panjang berkaitan dengan munculnya gejala seperti mata lelah, mata kering, pandangan kabur, sakit kepala, hingga rasa tidak nyaman di area leher dan bahu. Kondisi ini semakin sering ditemukan seiring meningkatnya waktu penggunaan gawai setiap hari.
Temuan serupa juga dipublikasikan dalam The Lancet Digital Health. Para peneliti menemukan bahwa semakin lama seseorang menggunakan layar digital tanpa jeda, semakin besar kemungkinan munculnya keluhan pada mata. Risiko tersebut meningkat terutama ketika layar digunakan pada jarak yang terlalu dekat atau di ruangan dengan pencahayaan yang kurang memadai.
Salah satu penyebab utama kelelahan mata adalah berkurangnya frekuensi berkedip saat menatap layar.
Penelitian menunjukkan bahwa manusia normalnya berkedip sekitar 15 hingga 20 kali setiap menit. Namun ketika fokus membaca atau menonton melalui ponsel, frekuensi tersebut dapat turun hingga hampir setengahnya. Akibatnya, lapisan air mata lebih cepat menguap sehingga mata menjadi kering, terasa perih, atau seperti berpasir.
Selain itu, ukuran huruf yang kecil dan kebiasaan menggulir layar secara terus-menerus membuat otot mata bekerja lebih keras untuk mempertahankan fokus. Kondisi inilah yang sering menyebabkan mata terasa cepat lelah setelah berjam-jam menggunakan ponsel.
Di sisi lain, American Academy of Ophthalmology (AAO) menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan cahaya biru dari layar ponsel menyebabkan kerusakan permanen pada retina dalam penggunaan sehari-hari. Meski demikian, paparan cahaya biru pada malam hari diketahui dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh dengan menekan produksi hormon melatonin, sehingga seseorang menjadi lebih sulit tidur.
Karena itu, para ahli lebih menyoroti dampaknya terhadap kualitas tidur dibandingkan kerusakan langsung pada mata.
Untuk mengurangi keluhan akibat penggunaan layar, para peneliti menyarankan penerapan aturan 20-20-20. Artinya, setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan selama 20 detik ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau enam meter. Cara sederhana ini membantu otot mata kembali rileks setelah bekerja terus-menerus.
Selain itu, menjaga jarak ponsel sekitar 40 hingga 50 sentimeter dari mata, mengatur tingkat kecerahan layar agar sesuai dengan pencahayaan ruangan, memperbesar ukuran teks bila diperlukan, serta rutin berkedip juga dapat membantu mengurangi risiko kelelahan mata.
Jika mata mulai terasa sangat kering, penggunaan tetes mata pelumas sesuai anjuran tenaga kesehatan juga dapat menjadi pilihan.
Di era digital, mengurangi penggunaan ponsel memang bukan perkara mudah. Namun, memahami cara menggunakan layar dengan lebih bijak menjadi langkah penting untuk menjaga kenyamanan mata dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, bukan hanya seberapa sering seseorang menggunakan ponsel yang perlu diperhatikan, tetapi juga bagaimana kebiasaan tersebut dilakukan. Mata mungkin mampu beradaptasi dengan teknologi, tetapi tetap membutuhkan waktu untuk beristirahat. (Zii)






