Kebiasaan Mendengarkan Podcast Sebelum Tidur Ternyata Punya Dua Sisi bagi Kualitas Istirahat
Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Podcast kini bukan lagi sekadar teman perjalanan atau aktivitas harian. Bagi banyak orang, terutama generasi muda, suara obrolan santai dari podcaster favorit justru menjadi “pengantar tidur” yang sulit digantikan. Mulai dari cerita horor, bincang santai, hingga pembahasan ilmu pengetahuan, semuanya menjadi teman di penghujung hari.
Namun, apakah kebiasaan mendengarkan podcast sebelum tidur benar-benar membantu tubuh beristirahat?
Sejumlah penelitian menunjukkan jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Efeknya bergantung pada jenis konten, durasi mendengarkan, hingga cara seseorang menikmati audio tersebut.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Sleep Health menemukan bahwa suara dengan karakter tenang, termasuk narasi dan percakapan yang stabil, dapat membantu sebagian orang lebih cepat memasuki fase tidur. Audio yang minim perubahan volume dan tidak terlalu merangsang otak mampu menciptakan kondisi rileks, terutama bagi mereka yang sulit mematikan pikiran sebelum tidur.
Hal serupa juga dijelaskan oleh para peneliti dari National Sleep Foundation. Mereka menyebut bahwa audio dengan tempo lambat dapat menjadi bentuk distraksi positif dari kecemasan atau pikiran yang terus berputar menjelang malam. Bagi sebagian orang, mendengarkan suara manusia yang konsisten menghadirkan rasa nyaman layaknya sedang ditemani berbincang.
Namun, manfaat tersebut bisa berubah menjadi sebaliknya jika podcast yang dipilih terlalu memancing rasa penasaran.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Sleep Research menunjukkan bahwa aktivitas mental yang tinggi menjelang tidur dapat membuat otak tetap aktif. Ketika pendengar terus mengikuti alur cerita, menunggu akhir pembahasan, atau merasa penasaran terhadap isi podcast, proses memasuki tidur justru menjadi lebih lama.
Fenomena ini sering terjadi ketika seseorang memilih podcast bergenre misteri, kriminal, debat, atau topik yang memicu emosi. Alih-alih mengantuk, otak terus bekerja mengolah informasi baru sehingga kualitas tidur dapat menurun.
Selain jenis konten, durasi mendengarkan juga menjadi faktor penting.
Para ahli menyarankan agar podcast tidak diputar sepanjang malam. Membiarkan audio terus menyala selama berjam-jam berpotensi mengganggu siklus tidur, terutama jika volume berubah secara tiba-tiba atau muncul iklan dengan suara lebih keras.
Fitur sleep timer yang kini tersedia di berbagai aplikasi podcast dinilai menjadi solusi sederhana. Dengan menghentikan audio secara otomatis setelah 15 hingga 30 menit, tubuh memiliki kesempatan memasuki fase tidur yang lebih alami tanpa gangguan suara berkepanjangan.
Di sisi lain, penelitian dari American Academy of Sleep Medicine (AASM) juga mengingatkan bahwa penggunaan ponsel sebelum tidur tetap perlu dibatasi. Paparan cahaya biru dari layar dapat menghambat produksi hormon melatonin yang berperan dalam mengatur waktu tidur. Karena itu, jika ingin mendengarkan podcast, pengguna disarankan memulai pemutaran lebih awal, lalu mematikan layar atau menggunakan mode gelap agar paparan cahaya dapat diminimalkan.
Pada akhirnya, podcast sebelum tidur bukanlah kebiasaan yang sepenuhnya buruk ataupun sepenuhnya baik. Jika dipilih dengan bijak, berisi pembahasan ringan, berdurasi singkat, dan diputar dengan volume rendah, podcast justru bisa menjadi ritual malam yang membantu tubuh lebih rileks.
Namun bila isi podcast terlalu memancing rasa penasaran hingga membuat seseorang terus terjaga, kebiasaan tersebut justru berpotensi mengurangi kualitas tidur tanpa disadari.
Dalam dunia yang semakin dipenuhi informasi, ternyata bukan hanya apa yang didengar yang penting, tetapi juga kapan dan bagaimana kita mendengarkannya. (Zii)






