Studi Ungkap Kebiasaan Overthinking Sebelum Tidur Berkaitan dengan Kualitas Istirahat yang Buruk
Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Pernah merasa tubuh sudah lelah tetapi pikiran justru semakin aktif saat hendak tidur? Fenomena yang sering disebut overthinking sebelum tidur ternyata bukan sekadar kebiasaan biasa. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan memikirkan berbagai masalah, kekhawatiran, atau kejadian masa lalu di malam hari dapat berdampak langsung pada kualitas tidur seseorang.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah menemukan bahwa rumination atau kecenderungan mengulang-ulang pikiran negatif memiliki hubungan kuat dengan gejala insomnia. Saat seseorang terus memikirkan masalah sebelum tidur, otak tetap berada dalam kondisi siaga sehingga proses untuk terlelap menjadi lebih sulit.
Dalam studi yang dilakukan oleh peneliti dari Henry Ford Health System dan University of Michigan, aktivitas mental berupa kekhawatiran dan pemikiran berulang diketahui dapat memperpanjang waktu yang dibutuhkan seseorang untuk tertidur serta meningkatkan kemungkinan terbangun di tengah malam.
Fenomena ini terjadi karena otak kesulitan beralih dari mode berpikir aktif menuju kondisi relaksasi yang diperlukan untuk tidur. Ketika seseorang terus memutar berbagai skenario, penyesalan, atau kekhawatiran tentang masa depan, tubuh juga dapat merespons dengan meningkatkan ketegangan fisik dan emosional.
Penelitian lain yang melibatkan ratusan mahasiswa menemukan adanya hubungan signifikan antara kecenderungan rumination dengan gangguan tidur. Semakin tinggi tingkat overthinking yang dialami seseorang, semakin besar pula kemungkinan munculnya masalah tidur dan rasa lelah pada keesokan harinya.
Dampaknya tidak berhenti pada malam hari. Kurang tidur akibat overthinking dapat memengaruhi suasana hati, kemampuan konsentrasi, produktivitas, hingga kesehatan mental secara keseluruhan. Penelitian menunjukkan bahwa kualitas tidur yang buruk sering berkaitan dengan meningkatnya risiko kecemasan dan depresi.
Para ahli menjelaskan bahwa lingkaran ini dapat menjadi siklus yang berulang. Seseorang yang cemas akan lebih sulit tidur, sementara kurang tidur dapat membuat tingkat kecemasan meningkat pada hari berikutnya. Akibatnya, overthinking kembali muncul saat malam tiba.
Untuk mengurangi kebiasaan tersebut, peneliti menyarankan berbagai strategi sederhana seperti membatasi penggunaan gawai menjelang tidur, menuliskan pikiran yang mengganggu dalam jurnal, melakukan latihan pernapasan, serta membangun rutinitas tidur yang konsisten. Praktik mindfulness atau kesadaran penuh juga dilaporkan membantu menurunkan kecenderungan rumination pada malam hari.
Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa kualitas tidur tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi fisik, tetapi juga oleh apa yang terjadi di dalam pikiran. Karena itu, mengelola overthinking sebelum tidur menjadi langkah penting untuk mendapatkan istirahat yang lebih berkualitas dan menjaga kesehatan mental dalam jangka panjang. (Zii)






