Digital Detox Jadi Tren Baru di Kalangan Pekerja Muda

Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Setelah bertahun-tahun hidup dalam ritme notifikasi tanpa henti, rapat daring, pesan instan, dan media sosial yang terus bergerak, semakin banyak pekerja muda mulai mengambil jeda dari dunia digital. Fenomena yang dikenal sebagai digital detox kini menjadi bagian dari gaya hidup baru yang dianggap mampu menjaga kesehatan mental sekaligus meningkatkan produktivitas kerja.

Digital detox merupakan upaya sadar untuk mengurangi atau menghentikan penggunaan perangkat digital dalam periode tertentu, mulai dari membatasi media sosial, mematikan notifikasi, hingga tidak menggunakan gawai di luar jam kerja. Praktik ini muncul sebagai respons terhadap meningkatnya kelelahan digital atau digital fatigue yang banyak dialami generasi muda pekerja.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa keterhubungan digital yang berlangsung terus-menerus dapat membuat seseorang sulit beristirahat secara mental. Bagi pekerja muda yang sebagian besar aktivitasnya bergantung pada teknologi, batas antara waktu kerja dan kehidupan pribadi sering kali menjadi kabur.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional tahun 2025 menemukan bahwa praktik digital detox mampu mengurangi tingkat kecemasan, meningkatkan kualitas tidur, serta membantu seseorang memperoleh ketenangan pikiran yang lebih baik. Studi tersebut juga mencatat bahwa jeda dari media sosial membuka peluang bagi interaksi sosial langsung yang lebih bermakna.

Temuan serupa juga muncul dalam berbagai kajian mengenai kesejahteraan digital. Sebuah tinjauan penelitian terhadap pekerja dewasa menunjukkan bahwa pembatasan penggunaan perangkat dan aplikasi digital di luar pekerjaan menjadi salah satu strategi yang paling banyak digunakan untuk menjaga keseimbangan hidup. Selama masa detox, banyak responden memilih aktivitas alternatif seperti olahraga, membaca buku, berkegiatan di alam terbuka, hingga menghabiskan waktu bersama keluarga.

Menariknya, digital detox tidak selalu berarti meninggalkan teknologi sepenuhnya. Banyak pekerja muda justru menerapkan pola yang lebih realistis, seperti tidak membuka email kantor setelah jam kerja, menetapkan waktu bebas ponsel sebelum tidur, atau menghapus sementara aplikasi media sosial yang dianggap mengganggu fokus.

Menurut sejumlah penelitian, langkah-langkah sederhana tersebut dapat membantu mengurangi dorongan untuk terus memeriksa ponsel dan meningkatkan kemampuan berkonsentrasi. Bahkan, sebuah penelitian yang dipublikasikan pada 2025 menemukan bahwa pembatasan akses internet seluler selama satu bulan berkaitan dengan peningkatan perhatian, kesehatan mental, dan kesejahteraan subjektif responden.

Fenomena ini juga dipengaruhi meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap kesehatan mental. Bagi banyak pekerja, produktivitas kini tidak lagi dipahami sebagai kemampuan untuk selalu terhubung, melainkan kemampuan mengelola energi dan fokus secara berkelanjutan.

Meski demikian, para peneliti menilai digital detox bukanlah solusi tunggal untuk seluruh persoalan kesehatan mental. Efektivitasnya dapat berbeda pada setiap individu, tergantung pola penggunaan teknologi, kebutuhan pekerjaan, serta kemampuan mengelola stres. Namun, sebagian besar penelitian sepakat bahwa penggunaan teknologi yang lebih sadar dan terukur dapat membantu menciptakan hubungan yang lebih sehat dengan dunia digital.

Di tengah budaya kerja yang semakin terhubung secara daring, digital detox tampaknya bukan sekadar tren sesaat. Bagi banyak pekerja muda, jeda dari layar kini menjadi cara sederhana untuk kembali menemukan keseimbangan antara pekerjaan, kehidupan pribadi, dan kesehatan mental. (Zii)