Penelitian Ungkap Alasan Banyak Orang Menunda Balas Chat, Bukan Selalu Karena Mengabaikan
Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Kebiasaan menunda membalas pesan atau chat menjadi fenomena yang semakin umum di era komunikasi digital. Meski sering dianggap sebagai tanda kurang peduli atau sengaja mengabaikan seseorang, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa alasan di balik perilaku tersebut jauh lebih kompleks.
Dilansir dari jurnal yang dipublikasikan dalam Computers in Human Behavior, peneliti menemukan bahwa seseorang cenderung menunda membalas pesan ketika mengalami kecemasan informasi (information anxiety), tekanan waktu, serta beban tugas yang tinggi. Kondisi ini membuat pesan yang masuk terasa seperti pekerjaan tambahan yang harus diselesaikan.
Penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa semakin banyak notifikasi dan pesan yang diterima seseorang, semakin besar kemungkinan mereka menunda memberikan respons. Fenomena ini berkaitan dengan kelelahan digital yang muncul akibat paparan komunikasi yang terus-menerus.
Sementara itu, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science menunjukkan bahwa kecepatan respons dalam percakapan sering kali dipersepsikan sebagai tanda kedekatan sosial. Orang cenderung merasa lebih terhubung ketika lawan bicara memberikan respons dengan cepat.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa lambatnya balasan pesan tidak selalu berarti rendahnya kepedulian. Banyak orang menunda membalas karena ingin memberikan jawaban yang lebih tepat, membutuhkan energi emosional untuk merespons, atau sedang mengalami kelelahan mental.
Penelitian lain mengenai komunikasi melalui ponsel menemukan bahwa budaya komunikasi digital menciptakan ekspektasi balasan cepat. Akibatnya, pihak yang menunggu respons sering merasa cemas atau frustrasi ketika pesan tidak segera dibalas.
Fenomena ini juga diperkuat oleh studi terbaru yang menganalisis jutaan percakapan WhatsApp dan Instagram. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar pesan memang dibalas dalam waktu singkat, sehingga respons cepat secara tidak langsung menjadi norma sosial dalam komunikasi modern.
Meski demikian, para peneliti menilai bahwa waktu balas pesan tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran kualitas hubungan. Faktor seperti kesibukan, kondisi psikologis, kebutuhan untuk menjaga batasan pribadi, hingga keinginan memberikan jawaban yang lebih bermakna turut memengaruhi perilaku seseorang saat berkomunikasi.
Temuan ini menunjukkan bahwa kebiasaan menunda balas chat lebih sering berkaitan dengan pengelolaan energi mental dan tekanan komunikasi digital dibandingkan sikap tidak peduli. Di tengah derasnya arus pesan setiap hari, kemampuan mengatur waktu respons justru menjadi bagian dari cara seseorang menjaga keseimbangan hidupnya. (Zii)






