Cuaca Panas Bisa Pengaruhi Emosi Manusia, Penelitian Ungkap Hubungan dengan Stres dan Mudah Marah
Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Cuaca panas ternyata bukan hanya membuat tubuh cepat lelah, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi emosional manusia. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa suhu tinggi berkaitan dengan meningkatnya rasa tidak nyaman, stres, hingga emosi negatif seperti mudah marah dan agresif.
Dilansir dari jurnal BMC Psychology berjudul Variable and Dynamic Associations between Hot Weather, Thermal Comfort, and Individuals’ Emotional States During Summertime yang dipublikasikan pada 2024, para peneliti menemukan bahwa rasa tidak nyaman akibat panas memiliki hubungan kuat dengan munculnya emosi negatif pada seseorang. Penelitian tersebut menyoroti bahwa suhu lingkungan yang tinggi dapat memengaruhi suasana hati, terutama ketika tubuh merasa gerah dan tidak nyaman.
Dalam penelitian itu dijelaskan bahwa panas tidak selalu memengaruhi setiap orang dengan cara yang sama. Namun, ketika seseorang mengalami ketidaknyamanan termal, emosi negatif seperti frustrasi, cemas, hingga mudah tersinggung cenderung meningkat.
Temuan serupa juga muncul dalam penelitian psikologi sosial oleh Craig A. Anderson dan rekan-rekannya dalam jurnal Personality and Social Psychology Bulletin. Penelitian tersebut menemukan bahwa suhu panas dapat meningkatkan hostile affect atau perasaan bermusuhan, hostile cognition atau pikiran agresif, serta meningkatkan ketegangan fisiologis tubuh.
Dilansir dari penelitian Heat and Violence tahun 2001, suhu panas juga dikaitkan dengan meningkatnya agresivitas manusia. Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa temperatur tinggi dapat memicu rasa permusuhan dan memperbesar kemungkinan seseorang bereaksi secara emosional ketika berada dalam situasi tertentu.
Beberapa penelitian lapangan bahkan menunjukkan perubahan perilaku sederhana saat cuaca panas. Salah satunya penelitian Ambient Temperature and Horn Honking yang menemukan bahwa pengendara lebih sering membunyikan klakson secara agresif ketika temperatur lingkungan meningkat.
Selain faktor suhu, kelembapan udara juga ikut memengaruhi kenyamanan emosional seseorang. Dalam penelitian besar mengenai sentimen manusia dan cuaca yang menganalisis miliaran unggahan media sosial, cuaca panas dan lembap ditemukan berkaitan dengan memburuknya ekspresi emosi manusia secara umum.
Para peneliti menyebut kondisi ini berkaitan dengan cara tubuh merespons panas. Ketika suhu meningkat, tubuh bekerja lebih keras untuk menjaga kestabilan temperatur. Hal tersebut dapat menyebabkan kelelahan, dehidrasi, dan ketidaknyamanan fisik yang akhirnya memengaruhi kondisi psikologis seseorang.
Karena itu, para ahli menyarankan masyarakat menjaga hidrasi tubuh, mengurangi aktivitas berat saat cuaca terik, serta mencari lingkungan yang lebih sejuk untuk membantu menjaga kestabilan emosi selama cuaca panas berlangsung. (Zii)






