Mikroplastik Ancam Kesehatan, Sampah Plastik Tak Lagi Sekadar Persoalan Lingkungan

Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Partikel mikroplastik kini tidak hanya mencemari sungai dan laut, tetapi juga telah ditemukan di dalam tubuh manusia. Kajian World Bank yang disampaikan Kementerian Lingkungan Hidup mengungkap sekitar 95 persen sampel masyarakat Indonesia telah terpapar mikroplastik yang diduga berasal dari makanan, air minum, udara, hingga lingkungan sekitar yang tercemar plastik.

Dampaknya terhadap kesehatan mulai menjadi perhatian serius. Sejumlah penelitian menyebut partikel mikroplastik dapat masuk ke saluran pernapasan dan aliran darah manusia. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memicu gangguan paru-paru, peradangan, gangguan hormon, hingga menurunkan fungsi kognitif otak.

Penelitian Ecoton pada 2025 juga menemukan mikroplastik telah mencemari udara di berbagai kota di Indonesia. Partikel kecil tersebut berasal dari pembakaran sampah, aktivitas transportasi, limbah tekstil, hingga penggunaan plastik sehari-hari. Mikroplastik bahkan ditemukan melayang di udara dan dapat terhirup manusia setiap hari.

Greenpeace Indonesia menyebut pencemaran mikroplastik bukan lagi sekadar ancaman lingkungan, tetapi telah menjadi ancaman kesehatan manusia. Organisasi tersebut menyoroti belum adanya standar pengawasan mikroplastik dalam pangan dan lingkungan di Indonesia.

Persoalan ini berawal dari meningkatnya penggunaan plastik sekali pakai yang tidak diimbangi pengelolaan sampah memadai. Sampah plastik yang terus menumpuk membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai secara alami. Selama proses itu, plastik akan pecah menjadi partikel kecil bernama mikroplastik yang mencemari tanah, sungai, laut, hingga udara.

Indonesia sendiri menghadapi kondisi darurat sampah plastik. Timbunan sampah nasional mencapai sekitar 64 juta ton per tahun, dengan sekitar 12 persen atau 7,68 juta ton di antaranya merupakan sampah plastik. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan plastik menyumbang 18,71 persen dari total sampah nasional, sementara hanya sekitar 11 persen yang berhasil didaur ulang.

Tidak hanya berdampak pada kesehatan manusia, pencemaran plastik juga merusak ekosistem laut dan sungai. Hewan laut seperti ikan, penyu, lumba-lumba, hingga burung laut kerap ditemukan mati akibat menelan plastik atau terjerat limbah di lautan. Sampah plastik yang terbawa arus sungai akhirnya bermuara ke laut dan menjadi pencemar jangka panjang.

Kementerian Lingkungan Hidup menyebut pencemaran plastik di laut turut memberikan dampak ekonomi. Selain meningkatkan biaya pengelolaan sampah, kondisi tersebut juga memengaruhi sektor perikanan, pariwisata, dan kesehatan masyarakat pesisir.

Di berbagai daerah, persoalan sampah plastik semakin diperparah oleh kebiasaan membakar sampah secara terbuka. Kajian Ecoton menunjukkan pembakaran sampah menjadi penyumbang utama mikroplastik di udara Indonesia pada 2025 dengan kontribusi lebih dari 55 persen. Praktik tersebut menyebabkan partikel plastik beterbangan dan masuk ke sistem pernapasan manusia.

Selain mencemari udara, sampah plastik juga berdampak terhadap kualitas tanah dan sumber air. Plastik yang tertimbun di tanah dapat menghambat penyerapan air, menurunkan kesuburan tanah, serta mencemari air tanah melalui kandungan zat kimia berbahaya di dalamnya.

Berbagai pihak kini mendorong pengurangan penggunaan plastik sekali pakai sebagai solusi utama. Sejumlah daerah mulai menerapkan pembatasan kantong plastik dalam aktivitas masyarakat, termasuk saat pembagian daging kurban pada Hari Raya Iduladha. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi lonjakan sampah plastik harian.

Pakar lingkungan menilai persoalan sampah plastik tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Kesadaran masyarakat menjadi faktor utama dalam menekan pencemaran plastik melalui kebiasaan sederhana seperti membawa tas belanja sendiri, memilah sampah rumah tangga, mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai, hingga mendukung program daur ulang.

Tanpa perubahan pola konsumsi dan pengelolaan sampah yang serius, pencemaran plastik diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang. Sampah yang dibuang sembarangan hari ini bukan hanya mencemari lingkungan saat ini, tetapi juga menjadi warisan masalah bagi generasi masa depan. (Zii)