Pemuda-Pemuda Desa Muai Olah Limbah Sawit Jadi Genteng dan Bata Ringan
Teks : Workshop pengolahan limbah sawit oleh pemuda Desa Muai
Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Sejumlah pemuda di Desa Muai, Kecamatan Kembang Janggut, Kutai Kartanegara (Kukar), mengolah bungkil kelapa sawit menjadi genteng dan bata ringan. Inovasi ini ditujukan untuk menyediakan alternatif bahan bangunan sekaligus memanfaatkan limbah sawit yang selama ini belum digunakan secara optimal.
Bungkil sawit yang digunakan merupakan sisa hasil pengolahan kelapa sawit. Bahan tersebut dikeringkan, kemudian dibakar dan dicampur dengan semen dengan komposisi sekitar 60:40. Dari proses itu dihasilkan material bangunan yang dirancang untuk kebutuhan konstruksi skala kecil hingga menengah.
Produk ini diproyeksikan menjawab kebutuhan masyarakat di wilayah yang akses distribusi bahan bangunannya masih terbatas. Beberapa permukiman di Kecamatan Kembang Janggut masih bergantung pada jalur sungai dan medan jalan yang sulit ditembus, sehingga alternatif bahan bangunan lokal dinilai penting.
Namun, inovasi tersebut belum dapat dimanfaatkan secara luas. Produk genteng dan bata ringan yang telah dibuat masih harus melalui uji kelayakan teknis sebelum bisa diproduksi massal dan dipasarkan.
Kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan akses ke lembaga penguji serta dukungan pendanaan untuk proses sertifikasi. Tanpa hasil uji resmi, produk tersebut belum memenuhi standar yang dipersyaratkan.
Anggota DPRD Kukar Daerah Pemilihan VI, Sri Muryani, menyatakan dukungannya terhadap inisiatif pemuda Desa Muai. Ia menilai inovasi berbasis limbah sawit ini sebagai bentuk teknologi tepat guna yang perlu mendapat perhatian.
“Inovasi seperti ini tidak boleh berhenti di meja percobaan. Pemerintah Daerah perlu hadir, terutama dalam memfasilitasi uji kelayakan dan pendampingan, agar karya pemuda desa bisa benar-benar dimanfaatkan masyarakat,” ujar Sri Muryani saat diwawancarai pada Senin (02/03/26).
Menurutnya, dukungan pemerintah dapat dilakukan melalui skema riset terapan, program teknologi tepat guna, atau kolaborasi lintas perangkat daerah. Dengan dukungan tersebut, produk yang dihasilkan bisa memenuhi standar teknis dan digunakan secara resmi.
Ia menegaskan, inovasi dari desa harus mendapat ruang pengembangan agar mampu berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan di Kukar.
“Kami berharap ada perhatian dan fasilitasi agar uji kelayakan bisa dilakukan, sehingga inovasi ini tidak berhenti di tengah jalan,” tandasnya. (Zii)






