Minum Kopi Saat Sahur dan Berbuka Berisiko Picu Asam Lambung, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Teks : ilustrasi minum kopi saat sahur dan berbuka
Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Bulan Ramadan menjadi momen perubahan pola makan dan minum, termasuk kebiasaan mengonsumsi kopi. Namun, konsumsi kopi saat sahur maupun berbuka puasa, terutama dalam kondisi perut kosong, berpotensi memicu peningkatan asam lambung.
Temuan tersebut sejalan dengan artikel ilmiah berjudul “Caffeine as a Factor Influencing the Functioning of the Human Body Friend or Foe?” yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrients dan tersedia di basis data PubMed Central.
Dalam tinjauan ilmiah itu dijelaskan bahwa kafein merangsang sekresi gastrin, yakni hormon yang memicu lambung memproduksi asam. Peningkatan asam lambung merupakan proses fisiologis normal, tetapi bisa menimbulkan keluhan ketika terjadi saat lambung kosong kondisi yang umum dialami setelah seharian berpuasa.
Pada waktu berbuka, ada sebagian orang memilih langsung mengonsumsi kopi sebelum makanan utama. Dalam kondisi tersebut, lambung yang kosong namun terstimulasi untuk memproduksi asam lebih banyak berpotensi menimbulkan rasa perih di ulu hati atau sensasi panas di dada (heartburn), terutama pada individu yang sensitif.
Studi itu juga menyoroti bahwa kafein dapat memengaruhi tonus otot sfingter esofagus bagian bawah, yakni katup pemisah lambung dan kerongkongan. Ketika otot ini lebih relaks, risiko naiknya asam lambung ke kerongkongan (refluks) dapat meningkat.
Dalam konteks Ramadan, perubahan jam makan dari yang semula teratur menjadi hanya saat sahur dan berbuka membuat lambung beradaptasi dengan ritme baru. Jika pada waktu sahur kopi diminum tanpa asupan makanan yang cukup, produksi asam lambung yang meningkat dapat memicu ketidaknyamanan selama berpuasa.
Selain itu, kafein juga diketahui memengaruhi motilitas saluran cerna atau pergerakan alami usus. Pada sebagian orang, efek ini dapat mempercepat dorongan buang air besar setelah minum kopi, yang pada waktu sahur bisa memengaruhi kesiapan tubuh menjalani puasa seharian.
Meski demikian, artikel ilmiah tersebut tidak menyimpulkan bahwa kopi harus dihindari sepenuhnya selama Ramadan. Dampak kafein disebut bergantung pada dosis, frekuensi konsumsi, serta kondisi kesehatan masing-masing individu.
Secara umum, konsumsi kafein dalam jumlah moderat masih dianggap aman bagi sebagian besar orang sehat. Namun, bagi individu dengan riwayat gangguan lambung, pengaturan waktu minum kopi misalnya tidak dalam kondisi perut benar-benar kosong dapat menjadi langkah pencegahan.
Dengan memahami mekanisme biologis kafein terhadap lambung, masyarakat dapat lebih bijak dalam menentukan pola konsumsi kopi selama Ramadan, agar ibadah puasa tetap berjalan nyaman tanpa gangguan asam lambung. (Zii)






