BPBD Kukar Minta Seluruh Kecamatan Tingkatkan Kewaspadaan Bencana

Teks : Ilustrasi cuaca ekstrem. (Istimewa)

Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara tengah bersiap menghadapi potensi meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi. Sejumlah wilayah diminta memperketat pemantauan kondisi alam menyusul perubahan cuaca yang terus terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

 

Arahan tersebut diperkuat melalui surat resmi yang telah dikirimkan ke seluruh camat. Dokumen tertanggal 24 November 2025 itu memuat instruksi peningkatan kewaspadaan, termasuk penguatan langkah mitigasi di tingkat kecamatan, kelurahan, dan desa.

 

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kukar, Edy Haryadi menjelaskan bahwa kebijakan ini tidak muncul tanpa dasar. Peringatan serupa sebelumnya telah dikeluarkan BNPB, BPBD Kaltim, Kemendagri, serta disertai pembaruan data dari BMKG Samarinda yang menunjukkan adanya anomali cuaca.

 

“Imbauan ini bukan hanya untuk wilayah hulu, tapi berlaku untuk seluruh Kukar. Ada anomali cuaca dan kondisi alam kita mirip dengan beberapa wilayah di Sumatera yang kemarin mengalami kejadian bencana. Jadi kami ingin semua camat meningkatkan kewaspadaan,” ungkap Edy.

 

Prediksi BMKG menunjukkan puncak musim hujan berlangsung cukup panjang, dimulai November 2025 hingga April 2026, dengan intensitas tertinggi pada Desember-Januari serta April-Mei. Kondisi ini dinilai mengharuskan semua pihak bersiap lebih dini.

 

“Ini sifatnya prediksi, tetapi harus diantisipasi. Tahun ini saja kemarau hanya terjadi sebulan, itu pun pada Juli,” kata Edy.

 

BPBD meminta seluruh wilayah untuk mengaktifkan pemantauan cuaca dan memperbarui informasi secara berkala. Pengecekan kondisi sungai, drainase, dan titik rawan longsor diminta dilakukan lebih intensif, terutama di area perbukitan dan wilayah dekat sungai besar.

 

Instruksi mitigasi yang dikeluarkan mencakup pembersihan saluran air, larangan membuang sampah ke sungai, hingga patroli saat hujan lebat. Selain itu, seluruh sarana prasarana penanggulangan bencana diminta dipastikan siap digunakan, termasuk jalur evakuasi.

 

“BPBD juga menekankan pentingnya kesiapan lokasi dan jalur evakuasi, terutama di daerah rawan,” ujarnya.

 

Koordinasi dengan posko BPBD dan call center darurat wajib dilakukan jika ditemukan tanda peningkatan risiko. Pembaruan informasi cuaca akan terus disampaikan mengikuti rilis resmi BMKG.

 

“Walaupun semuanya bersifat perkiraan, yang terpenting adalah antisipasi. Kami adalah ujung tombak, jadi setiap perkembangan akan kami sampaikan ke semua wilayah,” tambah Edy. (Zii)