Menyibak Harapan Pasca Banjir Bandang : Kisah Elga Eka Eklian di Salareh Aia yang Disapu Kayu dan Dikubur Bencana
Mediamahakam.com, Agam — Gelap, basah, dan penuh reruntuhan. Begitulah gambaran lokasi banjir bandang yang meluluhlantakkan Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam.
Di antara material bangunan sampai kendaraan yang terseret banjir, tumpukan kayu raksasa, batu, dan lumpur pekat setinggi pinggang, tim SAR gabungan berjuang menembus jalur yang seakan menjadi “kubur sunyi” para korban.
Tidak ada jeritan, tidak ada waktu untuk panik hanya kehancuran total dan misi kemanusiaan yang harus dituntaskan, meski setiap meter yang ditempuh adalah pertaruhan nyawa.
Salah satu rescuer, Elga Eka Eklian, dari Emergency Response Team PT BBE & KMIA, mengisahkan beratnya operasi pencarian selama tujuh hari di lokasi.

“Rumah, sawah, semua hancur. Material kayu, batu, dan lumpur menutup hampir seluruh area. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menembus itu semua untuk mencari korban,” ucapnya dengan haru.
Titik-titik yang dicurigai menjadi lokasi korban tertimbun kerap sulit diurai. Material baru masih terus bergerak, medan tak pernah stabil. Bahkan, tanda keberadaan korban pun lebih sering terdeteksi dari penciuman, bukan visual.
“Itu momen paling emosional kita (rescuer) sudah yakin ada korban di titik yang kita curigai, tapi tidak bisa langsung mengevakuasi karena alat berat tak bisa masuk ke pinggir sungai,” jelas Elga yang tergabung dalam Tim B (bravo) BASARNAS.
Dijelaskan Elga, risiko keselamatan tim SAR turut mengintai setiap langkah. Tim SAR gabungan harus berhati-hati dari ancaman terbenam dalam lumpur, tertusuk paku dari serpihan kayu, hingga serangan hewan seperti tawon ketika menyisir hutan, sungai, dan kebun.
Penguraian material menjadi bagian tersulit, terutama karena jalur dipenuhi batu besar dan material reruntuhan rumah.
Namun kerja keras itu berbuah hasil. Elga bersama tim Bravo SAR gabungan berhasil menemukan lima korban di runtuhan bangunan dan tertimbun tanah di satu lokasi yang sama, yakni di Jalan Padang Koto Gadang.

Korban pertama ditemukan pukul 11.16, disusul korban kedua pukul 14.40, dan tiga korban berikutnya pukul 15.40.
“Campur aduk rasanya haru, sedih, bangga. Yang terpenting kami menemukan korban dan mengevakuasi mereka untuk dapat ditangani lebih layak,” tutur Elga.

Diceritakan Elga, koordinasi operasi dilakukan setiap pagi melalui briefing tim SAR gabungan yang difasilitasi Basarnas. Sementara alat berat disokong perusahaan di bawah Kementerian ESDM untuk mempercepat penguraian material.
Tidak hanya fokus pada pencarian serta penyelamatan korban saja, Elga menyebut tim gabungan selama disana juga harus menjaga stamina para personel dengan menerapkan disiplin ketat seperti tidur cukup, makan teratur, konsumsi vitamin, vaksin tetanus, hingga konseling mental dengan relawan psikolog.
“Kami harus kuat fisik dan mental. Karena yang kami hadapi bukan hanya alam, tapi juga duka,” ucap Elga.

PT BBE & KMIA mengerahkan lima personel: empat rescuer dan satu tenaga medis, masing-masing Hairuddin Nur, Elga Eka Eklian, Busri, Parijan Abadi, dan Suwanto seluruhnya berbekal pelatihan pertolongan pertama dan teknik evakuasi.

Ia menegaskan satu pelajaran penting dari tragedi ini adalah peralatan harus disesuaikan dengan karakter medan. “Bencana datang tanpa kompromi. Kita yang harus siap, bukan sebaliknya,” pungkasnya. (pep)






