Distanak Kukar Dorong Kelompok Ternak Kembangkan Sapi Lokal dengan Pendekatan Berkelanjutan

Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Distanak Kukar, Aji Gazali Rahman

Kukar – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) melalui Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) terus mendorong peran aktif kelompok ternak dalam meningkatkan populasi sapi lokal. Bantuan ternak yang disalurkan tidak hanya untuk dipelihara, tetapi harus dikembangkan agar memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Distanak Kukar, Aji Gazali Rahman, menegaskan bahwa program bantuan ternak dirancang dengan pendekatan berkelanjutan. Kelompok yang berhasil mengelola bantuan dengan baik, menurutnya, memiliki peluang besar mendapat dukungan tambahan.

“Kalau kelompok mampu merawat dengan baik dan populasinya berkembang, pemerintah akan memberikan dukungan tambahan. Bisa berupa bantuan pakan, gudang, kandang, mesin chopper, bahkan pejantan pemacak baru untuk menghindari inbreeding,” kata Aji, pada Selasa (01/09/2025).

Ia menjelaskan, pejantan pemacak perlu diganti secara berkala setiap lima hingga tujuh tahun sekali untuk mencegah perkawinan sedarah yang bisa menurunkan kualitas keturunan. Karena itu, pemerintah akan menyiapkan pejantan baru agar kualitas genetik sapi tetap terjaga.

Selain pejantan pemacak, kelompok ternak yang dinilai berkembang juga berpeluang memperoleh fasilitas pendukung lain, seperti kendaraan roda tiga untuk distribusi pakan maupun hasil ternak. Dengan fasilitas tersebut, usaha peternakan diharapkan lebih efisien dan berorientasi pada peningkatan produktivitas.

Namun, Aji menegaskan tidak semua kelompok akan mendapat bantuan tambahan. Kelompok yang tidak mampu mengembangkan bantuan awal kemungkinan besar tidak akan lagi menerima program lanjutan.

“Ini bentuk seleksi alam. Kelompok yang serius akan terus berkembang, sementara yang tidak mampu berkembang biasanya berhenti di situ saja,” tegasnya.

Saat ini, populasi sapi di Kukar diperkirakan mencapai 18 ribu ekor. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan sensus nasional sebelumnya yang hanya mencatat 13 ribu ekor. Meski demikian, Kukar masih dalam tahap pengembangan populasi dan belum mencapai kondisi surplus.

Karena belum mampu memenuhi kebutuhan bibit secara mandiri, pemerintah daerah masih mendatangkan sapi dari luar daerah, seperti Nusa Tenggara Barat. Langkah ini diambil untuk mempercepat pertumbuhan populasi sekaligus menjaga ketersediaan bibit berkualitas.

Aji menambahkan, keberhasilan program sangat bergantung pada keseriusan kelompok penerima dalam merawat kesehatan ternak, memperbanyak populasi, dan menjaga kualitas sapi. Jika semua itu dijalankan, dampaknya akan langsung dirasakan masyarakat.

Dengan strategi pembinaan yang selektif dan berkelanjutan, Distanak Kukar optimistis populasi sapi terus meningkat. Ke depan, Kukar diharapkan mampu berkontribusi lebih besar terhadap kebutuhan daging sapi di Kalimantan Timur sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.