Kekurangan Penyuluh Pertanian di Kukar, Banyak Desa Tak Terlayani Optimal
Kepala Distanak Kukar, Muhammad Taufik.
Kukar – Keterbatasan jumlah penyuluh pertanian lapangan (PPL) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) membuat beban kerja para pendamping petani semakin berat. Tidak sedikit penyuluh harus membina lebih dari satu desa sekaligus, meski idealnya satu PPL mendampingi sekitar 18 kelompok tani.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Taufik, menyebut saat ini jumlah PPL hanya 127 orang, terdiri dari aparatur sipil negara (ASN) dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Dari jumlah itu, sebagian besar merupakan tenaga senior yang sebentar lagi memasuki masa purna tugas.
“Distribusi penyuluh memang ada, tetapi tidak merata. Ada desa yang justru tidak punya penyuluh tetap, sehingga satu PPL terpaksa merangkap di beberapa wilayah,” ujar Taufik, pada Rabu (13/08/2025).
Kondisi tersebut, lanjutnya, menjadi tantangan dalam menjaga kualitas penyuluhan. Beban kerja yang terlalu tinggi membuat PPL tidak bisa maksimal dalam membina petani, apalagi karakteristik lahan dan komoditas pertanian di Kukar sangat beragam.
Untuk menutup kekurangan, Pemkab Kukar memberdayakan penyuluh pertanian swadaya. Mereka berasal dari petani muda atau tokoh lokal yang telah dilatih dan diangkat melalui Surat Keputusan (SK) Bupati.
“Penyuluh swadaya ini membantu mengisi kekosongan di desa-desa. Mereka memang bukan PNS, tetapi dengan pengalaman lapangan yang dimiliki, perannya cukup signifikan dalam menjaga kesinambungan penyuluhan,” jelas Taufik.
Meski begitu, keterbatasan fasilitas yang diberikan pemerintah membuat kinerja penyuluh swadaya belum bisa optimal seperti penyuluh formal. Padahal, kehadiran mereka sangat penting untuk menjaga kesinambungan program pertanian.
“Kalau penyuluh kurang, dampaknya langsung terasa pada petani. Penyuluhan adalah ujung tombak, sehingga kita perlu regenerasi dan penguatan peran penyuluh, baik formal maupun swadaya,” pungkasnya.






