PPS Dorong Kemandirian Petani dan Pelatihan Sebelum Bantuan Diberikan
PPS Desa Loa Duri Ulu, Rili.
Kukar – Pemerintah terus menggulirkan berbagai program bantuan untuk mendukung produktivitas petani di Kutai Kartanegara (Kukar).
Namun di lapangan, tantangan utama justru datang dari rendahnya kesadaran sebagian petani dalam mengelola bantuan secara mandiri dan berkelanjutan.
“Kendala utama sebenarnya kesadaran petaninya sendiri. Kita memang butuh bantuan dari pemerintah, tapi petani juga harus mandiri. Jangan hanya mengandalkan bantuan, karena kalau tidak ada bantuan, mereka jadi tidak bekerja,” kata Rili, Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) Kukar, pada Jumat (06/06/2025).
Menurutnya, menjadi petani sukses tidak cukup hanya bergantung pada intervensi pemerintah. Diperlukan semangat swadaya dan keinginan untuk terus belajar agar pertanian dapat berjalan berkelanjutan.
Ia menambahkan, sebelum bantuan diberikan, sebaiknya ada pelatihan teknis agar bantuan tersebut bisa dimanfaatkan secara optimal.
“Harapannya, sebelum ada bantuan, ada pelatihan dulu, ada pendampingan dari Distanak. Supaya bantuan itu benar-benar bisa dimanfaatkan dan hasilnya baik,” jelasnya.
Salah satu contoh yang disorot Rili adalah bantuan pupuk. Ia menilai, masih banyak petani yang belum memahami cara aplikasi pupuk dan pengendalian hama secara tepat.
Hal ini berbeda dengan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang dinilai lebih mudah dipelajari secara mandiri.
“Kalau alat alsintan, mereka bisa belajar dari YouTube, malah pintar dan bisa modifikasi sendiri. Tapi untuk pupuk dan pengendalian hama, mereka banyak yang belum paham,” katanya.
Rili berharap ada sinergi antara pemerintah dan petani, di mana dukungan fasilitas disertai dengan pendampingan yang memadai, sehingga setiap bantuan benar-benar menjadi solusi, bukan sekadar formalitas.
“Kalau petaninya paham dan mau mandiri, bantuan sekecil apa pun bisa jadi berkah besar,” tutupnya.






