Pencahayaan Kamar Ternyata Berpengaruh pada Mood, Ini Temuan Sejumlah Penelitian
Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Pencahayaan di dalam kamar sering kali dianggap sebagai elemen pelengkap dalam desain interior. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa cahaya memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar membantu seseorang melihat dengan jelas. Intensitas dan warna pencahayaan ternyata dapat memengaruhi suasana hati, tingkat stres, hingga kesehatan mental.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Mental Health pada 2023 menemukan bahwa paparan cahaya terang pada malam hari berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan suasana hati, termasuk gejala depresi dan kecemasan. Sebaliknya, paparan cahaya alami yang cukup pada siang hari dikaitkan dengan kesehatan mental yang lebih baik.
Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 85 ribu partisipan yang dipantau menggunakan sensor cahaya selama beberapa hari. Hasilnya menunjukkan bahwa pola pencahayaan sehari-hari memiliki hubungan erat dengan kondisi emosional seseorang.
Menurut para peneliti, cahaya berperan dalam mengatur ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Ketika ritme ini terganggu akibat pencahayaan yang tidak sesuai, tubuh dapat mengalami perubahan pada produksi hormon seperti melatonin dan serotonin yang berkaitan dengan kualitas tidur serta suasana hati.
Temuan serupa juga dilaporkan oleh para peneliti dari Harvard Medical School. Mereka menjelaskan bahwa cahaya alami membantu meningkatkan produksi serotonin, zat kimia di otak yang berperan dalam menciptakan perasaan tenang, bahagia, dan fokus. Kurangnya paparan cahaya alami dapat menyebabkan seseorang merasa lesu atau kurang bersemangat.
Tak hanya intensitas cahaya, warna lampu juga memengaruhi kondisi psikologis. Sejumlah studi menunjukkan bahwa cahaya berwarna hangat dengan nuansa kekuningan cenderung menciptakan suasana yang nyaman dan rileks. Karena itu, pencahayaan jenis ini banyak direkomendasikan untuk kamar tidur dan ruang istirahat.
Sebaliknya, cahaya putih terang atau bernuansa kebiruan dapat meningkatkan kewaspadaan dan konsentrasi. Meski bermanfaat untuk bekerja atau belajar, penggunaan cahaya biru yang berlebihan pada malam hari dapat mengganggu proses tidur karena menekan produksi hormon melatonin.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Sleep Health juga menemukan bahwa lingkungan kamar dengan pencahayaan redup menjelang waktu tidur membantu tubuh lebih cepat memasuki fase istirahat. Kondisi tersebut mendukung kualitas tidur yang lebih baik, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap suasana hati keesokan harinya.
Para ahli menyarankan agar kamar mendapatkan akses cahaya matahari pada pagi atau siang hari, sementara pencahayaan malam sebaiknya menggunakan lampu yang lebih hangat dan tidak terlalu terang. Langkah sederhana ini dapat membantu menjaga keseimbangan ritme biologis tubuh.
Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa pencahayaan kamar bukan hanya soal estetika. Pengaturan cahaya yang tepat dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk mendukung kesehatan mental, meningkatkan kualitas tidur, dan menjaga mood tetap stabil dalam kehidupan sehari-hari. (Zii)






