Pemuda Tani Muara Jawa Bertahan di Tengah Tantangan, Butuh Dukungan Distribusi Hasil Pertanian

Koordinator BPP Kecamatan Muara Jawa, Dadang Kusnadi.

Kukar – Regenerasi petani menjadi tantangan besar dalam menjaga ketahanan pangan, khususnya di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Meski banyak pemuda lebih memilih bekerja di perusahaan, sebagian tetap bertahan menggeluti pertanian dengan dukungan dari Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Muara Jawa.

Koordinator BPP Muara Jawa, Dadang Kusnadi, mengisahkan upayanya membentuk kelompok pemuda tani di Kelurahan Muara Jawa Tengah sejak lima tahun lalu. Kelompok tersebut diberi nama Gapoktan Beronggang yang dikhususkan untuk anak muda.

“Sejak beberapa tahun lalu saya membentuk kelompok pemuda tani di Kelurahan Muara Jawa Tengah. Saya buat Gapoktan Beronggang khusus untuk pemuda. Alhamdulillah sampai sekarang masih berjalan, meskipun terseok-seok,” kata Dadang, pada Selasa (02/09/2025).

Untuk menjaga semangat, BPP Kecamatan Muara Jawa bersama pemuda tani membangun pendopo sebagai pusat kegiatan. Beberapa program pun dijalankan, mulai dari perbenihan jagung hingga budidaya semangka. Tujuannya memberikan contoh nyata hasil pertanian yang menjanjikan.

“Misalnya dari lahan satu hektare bisa menghasilkan sekian ton dan bernilai ratusan juta rupiah. Dengan contoh itu, banyak pemuda yang akhirnya tertarik bergabung di pertanian,” jelasnya.

Hingga kini, aktivitas pemuda tani masih terus berjalan. Mereka membudidayakan ayam kampung dan sempat mengelola kolam ikan lele dengan sistem bioflok. Fasilitas penunjang juga sudah tersedia, seperti kandang ayam dan alat mesin pertanian (alsintan).

“Anak-anak muda di sana tetap semangat bekerja dengan teknologi modern. Kegiatan ini sudah berjalan hampir 4–5 tahun terakhir,” ujar Dadang.

Namun, disisi lain, Dadang menilai dukungan pemerintah belum sepenuhnya menyentuh aspek krusial. Menurutnya, bantuan tidak hanya sebatas alsintan, tetapi juga harus mencakup benih unggul serta jaminan distribusi hasil pertanian.

“Pemerintah jangan hanya berhenti pada pemberian alsintan, tapi juga dukungan benih unggul dan akses distribusi hasil. Misalnya waktu itu kami berhasil membuat benih jagung, tapi yang beli tidak ada,” tegasnya.

Ia mencontohkan perbedaan nilai ekonomi antara jagung konsumsi dan benih jagung. Jagung benih bisa dihargai Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram, jauh lebih tinggi dibanding jagung konsumsi yang hanya sekitar Rp5 ribu per kilogram. Sayangnya, karena tidak ada lembaga penampung, hasil benih jagung terpaksa dijual ke tengkulak dengan harga rendah.

“Tanpa ada jaminan pembelian atau penyaluran hasil, pemuda tani sulit bertahan. Itu membuat pemuda jadi patah semangat, bahkan ada yang berhenti menanam benih jagung,” ungkapnya.