Penelitian Ungkap Fenomena FOMO di Media Sosial Picu Kecemasan dan Ketidakpuasan Hidup
Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun di balik kemudahan memperoleh informasi dan terhubung dengan orang lain, muncul fenomena psikologis yang semakin banyak diteliti para ahli, yakni Fear of Missing Out (FOMO) atau ketakutan tertinggal dari pengalaman, informasi, maupun aktivitas yang sedang dilakukan orang lain.
Dilansir dari penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Computers in Human Behavior pada 2013, psikolog Andrew K. Przybylski bersama timnya mendefinisikan FOMO sebagai kecemasan yang muncul ketika seseorang merasa orang lain sedang menikmati pengalaman yang lebih menarik tanpa dirinya. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa individu dengan tingkat FOMO tinggi cenderung lebih aktif menggunakan media sosial dan lebih sulit melepaskan diri dari perangkat digital.
Menurut para peneliti, media sosial menjadi lingkungan yang ideal bagi berkembangnya FOMO karena pengguna terus-menerus terpapar unggahan mengenai liburan, pencapaian karier, pertemanan, hingga gaya hidup yang tampak menyenangkan. Paparan tersebut sering kali membuat seseorang merasa kehidupannya kurang menarik dibandingkan orang lain.
Penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal Personality and Individual Differences menemukan bahwa FOMO memiliki hubungan erat dengan kebutuhan seseorang untuk diterima dalam lingkungan sosial. Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, individu cenderung lebih sering memantau aktivitas orang lain melalui media sosial untuk memastikan dirinya tidak tertinggal dari tren atau percakapan yang sedang berlangsung.
Fenomena ini juga berkaitan dengan kebiasaan memeriksa ponsel secara berulang. Sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Computers in Human Behavior menunjukkan bahwa FOMO dapat mendorong perilaku penggunaan media sosial secara kompulsif. Pengguna merasa perlu memeriksa notifikasi, pesan, maupun unggahan terbaru meski tidak ada kebutuhan mendesak untuk melakukannya.
Dampaknya tidak hanya terbatas pada kebiasaan digital. Dilansir dari penelitian dalam jurnal Psychiatry Research, tingkat FOMO yang tinggi berhubungan dengan meningkatnya stres, kecemasan, serta kualitas tidur yang lebih buruk. Banyak pengguna media sosial mengaku sulit beristirahat karena dorongan untuk terus mengikuti perkembangan terbaru di dunia maya.
Para peneliti juga menemukan bahwa kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain menjadi salah satu faktor yang memperkuat FOMO. Unggahan yang menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang dapat menciptakan persepsi bahwa orang lain selalu lebih sukses, lebih bahagia, atau lebih produktif. Padahal, media sosial umumnya hanya menampilkan sebagian kecil dari realitas kehidupan seseorang.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa media sosial bukanlah penyebab utama munculnya FOMO. Faktor kepribadian, kondisi psikologis, serta kebutuhan sosial seseorang turut memengaruhi tingkat kerentanan terhadap fenomena tersebut. Dengan kata lain, dua orang yang menggunakan media sosial dalam durasi yang sama belum tentu mengalami tingkat FOMO yang serupa.
Untuk mengurangi dampak FOMO, peneliti menyarankan pengguna membatasi waktu penggunaan media sosial, mematikan notifikasi yang tidak penting, serta lebih fokus pada aktivitas dan hubungan sosial di dunia nyata. Praktik digital detox atau beristirahat sejenak dari media sosial juga dinilai efektif membantu mengurangi kecemasan akibat paparan informasi yang berlebihan.
Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa FOMO merupakan salah satu tantangan psikologis yang muncul seiring berkembangnya teknologi digital. Di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti, kemampuan untuk mengelola penggunaan media sosial secara sehat menjadi kunci agar teknologi tetap memberikan manfaat tanpa mengorbankan kesejahteraan mental penggunanya. (Zii)






