Healing Tipis-tipis dan Cara Anak Muda Mencari Napas di Tengah Rutinitas yang Padat
Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Di sela jadwal kuliah, tumpukan tugas, target pekerjaan, hingga notifikasi yang seolah tidak pernah berhenti, muncul satu istilah yang kini akrab di telinga banyak anak muda yakni healing tipis-tipis. Bentuknya tidak selalu perjalanan jauh ke pegunungan atau liburan mahal. Kadang hanya berupa membeli kopi lalu duduk di taman, berjalan sore saat matahari mulai turun, pergi ke pantai terdekat, atau menghabiskan waktu satu-dua jam tanpa memikirkan pekerjaan.
Istilah tersebut semakin populer di media sosial dan menjadi bagian dari bahasa keseharian generasi muda. Bagi sebagian orang, healing tipis-tipis adalah cara sederhana untuk memberi jeda pada tubuh dan pikiran yang terus bergerak.
Dilansir dari penelitian “Healing” ialah Pemahaman dan Praktiknya dalam Pariwisata Berdasarkan Konten Media Sosial TikTok yang dipublikasikan dalam Gadjah Mada Journal of Tourism Studies, istilah healing saat ini dipahami bukan sekadar proses pemulihan kesehatan mental, tetapi juga telah bergeser menjadi aktivitas rekreasi, wisata, dan upaya menyegarkan diri. Penelitian tersebut menunjukkan media sosial ikut memengaruhi cara anak muda memaknai aktivitas healing.
Fenomena itu menjelaskan mengapa banyak anak muda kini merasa cukup pergi sebentar ke tempat yang membuat pikiran terasa lebih ringan. Tidak harus jauh, tidak harus mahal, dan tidak harus menunggu libur panjang.
Namun menariknya, kebiasaan tersebut ternyata memiliki hubungan dengan sejumlah temuan ilmiah. Penelitian Greenspace Ecotherapy Interventions: The Stress-Reduction Potential of Green Micro-Breaks Integrating Nature Connection and Mind-Body Skills menemukan bahwa jeda singkat selama satu hingga lima menit di ruang hijau dapat membantu mengurangi tekanan psikologis dan meningkatkan kondisi emosional seseorang.
Temuan lain dari penelitian Waktu yang Dibutuhkan dalam Meregulasi Emosi Setelah Berwisata Alam: Eksplorasi Fenomena Wisata Alam Pada Dewasa Muda Yang Merantau menunjukkan bahwa wisata alam dapat membantu regulasi emosi pada dewasa muda. Sebagian responden bahkan merasakan perubahan suasana hati positif sejak masih berada di lokasi wisata.
Bahkan sejumlah studi terbaru mengenai intervensi berbasis alam juga menunjukkan bahwa interaksi dengan lingkungan hijau memiliki hubungan dengan penurunan stres, berkurangnya pikiran berulang yang mengganggu, dan peningkatan kesejahteraan psikologis.
Di balik tren healing tipis-tipis, mungkin ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar mengikuti istilah media sosial. Di tengah kehidupan yang bergerak cepat, anak muda tampaknya sedang mencari ruang kecil untuk bernapas.
Karena terkadang, yang dicari bukan perjalanan jauh. Melainkan kesempatan singkat untuk merasa tenang sebelum kembali menghadapi hari esok. (Zii)






