Lampu Menyala Saat Tidur Ternyata Tak Sesederhana Rasa Takut Gelap

Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Banyak orang terbiasa tertidur dengan televisi yang masih menyala, lampu tidur redup di sudut kamar, atau cahaya ponsel yang belum benar-benar padam. Kebiasaan itu sering dianggap sepele, sekadar teman bagi mereka yang tidak nyaman dengan gelap. Namun sejumlah penelitian menunjukkan, tubuh ternyata membaca cahaya malam dengan cara yang berbeda.

Saat mata terpejam, tubuh sesungguhnya tidak benar-benar “mematikan” sistem pengamatannya. Otak masih menerima informasi tentang terang dan gelap, lalu menggunakannya untuk mengatur ritme biologis atau jam internal tubuh yang dikenal sebagai ritme sirkadian. Paparan cahaya pada malam hari dapat mengganggu proses tersebut.

Dalam kondisi normal, tubuh akan meningkatkan produksi hormon melatonin ketika suasana mulai gelap. Hormon ini berperan sebagai sinyal alami bahwa tubuh perlu beristirahat. Ketika lampu kamar, televisi, atau cahaya elektronik terus menyala, produksi melatonin dapat menurun sehingga tubuh sulit mencapai kualitas tidur yang optimal.

Masalahnya bukan hanya soal sulit tidur atau lebih sering terbangun di tengah malam. Sejumlah penelitian menemukan bahwa tidur dengan paparan cahaya berlebih dapat membuat seseorang lebih sering berada pada fase tidur ringan dan mengurangi fase tidur yang lebih dalam. Padahal fase tersebut merupakan saat tubuh melakukan proses pemulihan, memperbaiki sel, hingga menyeimbangkan berbagai fungsi biologis.

Dampaknya dapat terasa keesokan hari. Tubuh mungkin terasa lebih lelah, konsentrasi menurun, dan suasana hati menjadi lebih mudah berubah. Dalam jangka panjang, beberapa studi juga mengaitkan paparan cahaya saat tidur dengan meningkatnya risiko gangguan metabolisme seperti obesitas dan diabetes.

Temuan lain yang lebih baru bahkan menyoroti kaitan antara cahaya malam dengan kesehatan jantung. Penelitian terhadap puluhan ribu partisipan menunjukkan bahwa individu yang terpapar cahaya lebih tinggi saat tidur memiliki risiko gangguan kardiovaskular yang lebih besar dibandingkan mereka yang tidur dalam kondisi lebih gelap. Peneliti menduga hal ini berkaitan dengan terganggunya ritme biologis tubuh dalam jangka panjang.

Di era modern, sumber cahaya saat tidur tidak lagi hanya berasal dari lampu kamar. Lampu jalan yang masuk melalui jendela, layar televisi, notifikasi ponsel, hingga lampu indikator perangkat elektronik ikut menjadi bagian dari polusi cahaya yang sering luput disadari.

Meski demikian, bukan berarti seseorang harus langsung tidur dalam kondisi gelap total apabila belum terbiasa. Beberapa pakar menyarankan mengurangi intensitas cahaya secara bertahap, menggunakan tirai yang lebih rapat, atau mematikan layar elektronik sebelum waktu tidur.

Bagi tubuh manusia, malam sejak lama merupakan sinyal untuk memperlambat ritme dan memulihkan diri. Di tengah kehidupan yang semakin terang oleh layar dan lampu, ternyata tidur dalam gelap bukan hanya urusan kenyamanan, tetapi juga bagian dari cara tubuh menjaga keseimbangannya sendiri. (Zii)