Saat Tanaman Hias Menjadi Penawar Penat di Rumah, Apa Kata Penelitian?

Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Rumah sering dibayangkan sebagai tempat pulang yang tenang. Namun bagi banyak orang, rumah juga dapat menjadi ruang tempat pekerjaan menumpuk, urusan keluarga saling bersilang, dan pikiran tidak benar-benar beristirahat. Di tengah ritme itu, tanaman hias yang selama ini dianggap sekadar penghias ruangan ternyata mulai dilihat peneliti sebagai elemen kecil yang mungkin membantu meredakan stres dalam kehidupan rumah tangga.

Beberapa tahun terakhir, tanaman hias mengalami lonjakan popularitas. Rak-rak rumah dipenuhi daun hijau, dari monstera, sirih gading, hingga lidah mertua. Sebagian orang menganggapnya tren dekorasi semata. Sebagian lain mengaku ada perasaan lebih tenang ketika melihat sudut rumah dipenuhi tanaman.

Rasa tenang itu ternyata bukan sekadar kesan pribadi. Sebuah penelitian dalam Journal of Physiological Anthropology meneliti interaksi manusia dengan tanaman dalam ruangan dan menemukan bahwa aktivitas sederhana seperti merawat tanaman dapat menurunkan tekanan psikologis sekaligus respons fisiologis terhadap stres. Peneliti menemukan aktivitas yang melibatkan tanaman mampu menekan aktivitas sistem saraf simpatik yang berkaitan dengan respons stres tubuh.

Temuan lain menunjukkan keberadaan tanaman dalam ruang juga memengaruhi persepsi seseorang terhadap lingkungannya. Studi dalam Preventive Medicine menemukan ruangan yang memiliki tanaman cenderung dipersepsikan lebih menarik dan lebih menenangkan dibanding ruangan tanpa tanaman. Kondisi itu ikut menurunkan tingkat stres yang dirasakan individu.

Jika ditarik lebih dekat ke kehidupan rumah tangga, temuan ini menjadi menarik. Rumah modern kini sering berubah fungsi menjadi tempat bekerja, belajar, sekaligus beristirahat. Dapur menjadi ruang diskusi, meja makan berubah menjadi meja kerja, sementara ponsel terus membawa notifikasi ke ruang keluarga. Dalam situasi seperti itu, kehadiran unsur alam di dalam rumah dapat menjadi semacam jeda visual di tengah kepadatan aktivitas.

Bukan berarti tanaman hias secara ajaib menghilangkan masalah rumah tangga. Tanaman tidak menyelesaikan konflik keluarga atau menghapus beban pekerjaan. Namun beberapa peneliti menilai aktivitas merawat tanaman menciptakan rutinitas sederhana yang membantu seseorang memperlambat ritme pikirannya.

Ada hal menarik lain yang ditemukan dalam berbagai penelitian. Manfaat tanaman tidak hanya muncul karena bentuknya, tetapi juga karena interaksi dengan tanaman itu sendiri. Menyiram tanaman, memeriksa daun baru yang tumbuh, atau sekadar memperhatikan warna hijaunya dapat menjadi aktivitas kecil yang membantu seseorang memusatkan perhatian pada momen saat ini.

Namun penelitian juga mengingatkan bahwa lebih banyak tidak selalu lebih baik. Studi terbaru menunjukkan terlalu banyak elemen hijau dalam satu ruang justru dapat terasa berlebihan bagi sebagian orang. Kuncinya bukan mengubah rumah menjadi hutan mini, melainkan menghadirkan unsur alam secara seimbang.

Mungkin itu sebabnya banyak orang tidak sekadar membeli tanaman untuk mengisi sudut kosong. Di balik pot kecil yang diam di dekat jendela, ada sesuatu yang lebih sunyi sedang bekerja: perasaan bahwa di tengah rumah yang sibuk, masih ada kehidupan kecil yang tumbuh perlahan dan mengingatkan bahwa ketenangan terkadang datang dari hal yang sangat sederhana. (Zii)