Otak yang Terbiasa Menggeser Layar, Benarkah Konten Pendek Mengikis Daya Fokus?

Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Video berdurasi 15 detik, 30 detik, satu menit, lalu jari kembali bergerak ke atas. Di sela menunggu makanan datang, saat perjalanan pulang, bahkan sebelum tidur, kebiasaan menggulir video pendek telah menjadi bagian dari rutinitas banyak orang. Tanpa terasa, waktu yang semula hanya “sebentar” berubah menjadi puluhan menit, bahkan berjam-jam.

Di tengah kebiasaan itu, muncul pertanyaan yang semakin sering dibicarakan apakah konsumsi konten pendek benar-benar memengaruhi kemampuan seseorang untuk fokus?

Pertanyaan tersebut bukan lagi sekadar percakapan di media sosial. Sejumlah penelitian mulai meneliti hubungan antara video pendek dengan kemampuan perhatian dan daya ingat manusia. Sebuah penelitian berjudul Impact of Short-Form Video Content on Attention Span and Memory Retention menemukan adanya kekhawatiran bahwa paparan video pendek secara intens dapat memengaruhi rentang perhatian dan kemampuan mempertahankan informasi, terutama pada pengguna dengan frekuensi konsumsi tinggi.

Konten pendek memang dirancang untuk merebut perhatian secepat mungkin. Dalam hitungan detik pertama, gambar bergerak cepat, suara berubah, teks muncul, lalu algoritma menyiapkan video berikutnya. Sistem tersebut membuat otak terus menerima rangsangan baru tanpa jeda panjang.

Penelitian lain mengenai ekonomi perhatian (attention span economy) menjelaskan bahwa perhatian kini diperlakukan seperti sumber daya yang diperebutkan. Platform digital berlomba membuat pengguna bertahan lebih lama melalui konten yang singkat, cepat, dan terus berubah.

Masalahnya bukan hanya durasi video yang pendek, tetapi juga pola perpindahan perhatian yang berlangsung sangat cepat. Sebuah penelitian eksperimental dari 2023 menemukan bahwa video pendek yang muncul secara beruntun dan memicu context switching atau perpindahan fokus terus-menerus dapat menurunkan kemampuan seseorang mengingat niat atau tugas yang sebelumnya direncanakan.

Dampaknya mulai terasa dalam aktivitas sehari-hari. Sebagian orang mengaku lebih mudah terganggu saat membaca buku panjang, menonton film dengan tempo lambat, atau mengerjakan tugas yang membutuhkan konsentrasi dalam waktu lama.

Namun para peneliti juga memberi catatan penting: konten pendek bukan berarti otomatis merusak otak. Sejauh ini penelitian lebih banyak menunjukkan adanya hubungan dan pola perilaku, bukan bukti bahwa video pendek secara permanen menghancurkan kemampuan fokus manusia. Sebagian ahli menilai yang berubah bukan kemampuan fokus itu sendiri, melainkan cara perhatian dibentuk dan dilatih.

Penelitian dari IPB University juga menunjukkan penggunaan video pendek dapat memengaruhi kebiasaan belajar dan perhatian mahasiswa, terutama jika konsumsi dilakukan secara berlebihan.

Mungkin karena itu, masalahnya bukan terletak pada satu video berdurasi 30 detik. Yang menjadi perhatian para peneliti adalah kebiasaan yang terus berulang: otak terbiasa menerima hiburan cepat, lalu perlahan merasa aktivitas yang membutuhkan kesabaran sebagai sesuatu yang terlalu lambat.

Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah video pendek harus dihindari sepenuhnya. Di tengah dunia yang bergerak cepat, tantangannya mungkin justru menjaga agar perhatian manusia tidak ikut menjadi sesingkat durasi layar yang terus digeser dengan ujung jari. (Zii)