Virus Hantavirus Mulai Menyebar di Asia, Ancaman dari Tikus Kembali Diwaspadai

Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Ancaman penyakit menular kembali menjadi perhatian dunia. Kali ini, virus Hantavirus yang dibawa hewan pengerat seperti tikus dilaporkan mulai menyebar di sejumlah negara Asia dan memicu kewaspadaan otoritas kesehatan internasional.

Dilansir dari CNBC Indonesia, virus tersebut diketahui dapat menyebabkan gangguan serius pada paru-paru dan ginjal, bahkan memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi pada beberapa kasus.

Sorotan terhadap Hantavirus meningkat usai munculnya kasus di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar di Samudra Atlantik. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan adanya korban meninggal akibat infeksi virus tersebut, sehingga sejumlah negara mulai memperketat pengawasan kesehatan.

Di kawasan Asia, beberapa negara telah mencatat kemunculan kasus Hantavirus dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, Indonesia sendiri mencatat 23 kasus Hantavirus selama periode 2024 hingga 2026 yang tersebar di sembilan provinsi. Tiga di antaranya dilaporkan meninggal dunia.

Virus ini umumnya menular melalui urine, air liur, feses, maupun debu yang terkontaminasi dari hewan pengerat. Penularan bisa terjadi ketika seseorang menghirup partikel yang tercemar virus atau melakukan kontak langsung dengan tikus yang terinfeksi.

Meski demikian, Kementerian Kesehatan memastikan jenis Hantavirus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan strain Andes Virus yang menjadi perhatian dunia karena diduga dapat menular antarmanusia. Di Indonesia, mayoritas kasus berasal dari Seoul Virus yang penularannya masih berkaitan dengan hewan pengerat.

Data Kemenkes juga menunjukkan tren peningkatan kasus pada 2025. Dari total 251 kasus suspek yang diperiksa sejak 2024, sebanyak 23 dinyatakan positif Hantavirus.

Pakar kesehatan mengingatkan bahwa ancaman utama bukan hanya berasal dari virusnya, tetapi juga dari tingginya populasi tikus di lingkungan permukiman. Kondisi sanitasi yang buruk, tumpukan sampah, hingga minimnya pengendalian hama dinilai dapat memperbesar risiko penyebaran penyakit zoonosis tersebut.

Pemerintah Indonesia pun mulai memperkuat sistem skrining dan pengawasan untuk mencegah potensi penyebaran lebih luas. Menteri Kesehatan RI disebut telah menyiapkan langkah antisipasi, termasuk pengembangan metode deteksi cepat seperti rapid test dan pemeriksaan PCR.

Walau WHO menilai risiko penyebaran global masih tergolong rendah, masyarakat tetap diminta waspada dengan menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak dengan tikus liar, serta menggunakan pelindung saat membersihkan area yang berpotensi tercemar kotoran hewan pengerat. (Zii)