Distanak Kukar Perkuat Pemantauan Pertanian Lewat Data Lapangan dan Aplikasi

Plt Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distanak Kukar, Taufik.

Kukar – Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat sistem pemantauan sektor pertanian dengan menggabungkan laporan curah hujan dan data produksi yang dikirimkan secara rutin dari lapangan.

Langkah ini dinilai penting untuk memastikan setiap kebijakan yang diambil sesuai dengan kondisi faktual di daerah.

Plt Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distanak Kukar, Taufik, menjelaskan bahwa sumber informasi iklim tidak hanya mengandalkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Pihaknya juga melibatkan petugas pencatat di lapangan yang dilengkapi alat bantu sederhana untuk mengukur curah hujan.

“Kawan-kawan di lapangan mengirimkan laporan curah hujan setiap bulan dari kecamatan ke kabupaten, kemudian kami lakukan rekap,” ujarnya, pada Kamis (25/9/2025).

Selain iklim, sektor produksi pertanian juga dipantau secara sistematis. Informasi mengenai luas tanam dan panen dikirim secara online oleh petugas lapangan, kemudian direkap dan dimasukkan ke dalam aplikasi terintegrasi. Sistem ini memastikan setiap data yang masuk dapat dipantau secara real time dan terverifikasi.

Taufik mencontohkan, khusus untuk komoditas cabai, terdapat aplikasi bernama Si Pedas yang langsung terkoneksi dengan Dinas Pertanian Provinsi dan juga Badan Pusat Statistik (BPS).

“Misalnya untuk cabai, ada aplikasi Si Pedas yang terkoneksi langsung dengan Dinas Pertanian Provinsi dan juga Badan Pusat Statistik (BPS),” terang Taufik.

Hal serupa juga berlaku untuk komoditas padi. Setiap laporan luas tambah tanam dipantau melalui sistem yang menyajikan data secara harian, mingguan, hingga bulanan.

Mekanisme ini memungkinkan pemerintah daerah untuk mengetahui kondisi lapangan secara cepat, sekaligus merespons potensi kendala produksi.

Dengan dukungan sistem pelaporan yang terintegrasi, Distanak Kukar berharap dapat menyusun kebijakan berbasis data yang lebih presisi. Menurut Taufik, akurasi data akan menentukan arah strategi pembangunan pertanian ke depan.

“Sedangkan untuk padi, laporan luas tambah tanam juga kami pantau melalui sistem yang datanya bersifat harian, mingguan, dan bulanan,” tandasnya.