Keunikan Sawah Kota Bangun Tergantung Pasang Surut Mahakam
Ilustrasi Sawah.
Kukar – Kondisi pertanian di Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), memiliki keunikan tersendiri. Tidak seperti wilayah lain yang bisa menanam padi dua kali dalam setahun, sawah di kawasan ini hanya bisa ditanami sekali setahun.
Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kota Bangun, Ifan Manosa, menyebut faktor utama pembatasan itu adalah kondisi geografis.
“Kalau Kota Bangun ini sawahnya hanya bisa satu tahun sekali ditanam. Itu karena letaknya di pinggir Sungai Mahakam,” ungkapnya pada Kamis (4/9/2025).
Menurutnya, siklus tanam padi di Kota Bangun sangat bergantung pada pasang surut sungai.
“Masyarakat menyebutnya musim timuran. Artinya musim tanam hanya sekali dalam setahun, mengikuti kondisi air Mahakam,” jelas Ifan.
Ia menambahkan, lahan bisa digarap hanya ketika kemarau tiba. Jika air sungai naik, tanaman akan terendam dan petani tidak bisa melakukan penanaman.
“Saat kemarau lahan bisa ditanami, tapi begitu air Mahakam naik lagi, tanaman langsung terendam,” katanya.
Beberapa desa yang biasanya memanfaatkan musim kemarau untuk menanam adalah Muhuran, Sebelimbingan, Kedang Murung, Kota Bangun Seberang, dan Loleng.
“Di daerah itu, lahan bisa digarap saat musim kemarau datang,” pungkas Ifan.






