Keluarga dan Rekan Pejabat Kenang Sosok Awang Faroek Ishak, Pemimpin Visioner yang Karyanya Akan Terus Dikenang

Teks Foto : Suasana prosesi pemakaman mantan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak. (Rizka/Media Mahakam)

mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Lantunan sholawat dari para pelayat iringi prosesi pemakaman mantan Gubernur Kalimantan Timur, Awang Faroek Ishak, menuju tempat peristirahatan terakhirnya.

Setelah dishalatkan di Masjid Nurul Mu’minin, jenazah almarhum diantar ke tanah kelahirannya di Tenggarong, Kutai Kartanegara, untuk dimakamkan di pemakaman keluarga di Jalan APT Pranoto, tepat di samping makam putranya, almarhum Awang Ferdian Hidayat.

Kepergian Awang Faroek meninggalkan duka mendalam untuk keluarganya. Terutama untuk sang istri, Ence Amelia Suharni dan putri semata wayang mereka, Dayang Donna Walfiares Tania Putri.

Bagi Donna, ayahnya adalah pahlawan, sosok kharismatik yang sangat menginspirasi. Ia juga mengenang sosok sang ayah sebagai figur yang penuh semangat, rendah hati, dan selalu memberikan nasihat bijak.

“Papa selalu mengajarkan untuk tidak takut berjuang meski ada rintangan. Bahkan saat saya kalah dalam pilkada, papa bilang kalah-menang itu biasa. Semua perjuangan ada biayanya, tapi jangan pernah menyerah,” ungkap Donna dengan suara lirih.

Ia juga menceritakan momen terakhir ayahnya yang ingin dirawar di salah satu rumah sakit di Kota Balikpapan, meski ada rumah sakit terdekat di Samarinda. “Mungkin sudah firasatnya dan itu baru saya sadari sekarang. Ternyata beliau ingin melewati jalan tol dan jembatan kembar yang merupakan karyanya semasa menjabat dulu,” tambahnya.

Di tengah rasa kehilangan, Donna juga mengingat pesan-pesan ayahnya yang inspiratif. “Papa selalu bilang, kalau mau dekat dengan masyarakat, tinggalkan kemewahan. Beliau mengajarkan untuk tidak sombong dengan harta yang dimiliki dan harus benar-benar merakyat,” ujarnya.

Sebagai Ketua Kadin, Donna juga merasa terpanggil untuk melanjutkan cita-cita sang ayah, termasuk pengembangan kawasan Maloy di Kutai Timur yang menjadi salah satu impian besar almarhum.

“Saya titipkan Kutai Timur kepada pemimpin yang baru. Itu adalah kebanggaan dan perjuangan pertama papa,” ucap Donna.

Selain keluarga, kepergian Awang Faroek juga dirasakan oleh rekan-rekan pejabat lainnya. Salah satunya dari Sekretaris Daerah Kutai Kartanegara, Sunggono, yang turut melepas kepergian mantan gubernur dua periode itu.

“Atas nama Pemkab dan masyarakat Kukar, kami menyampaikan duka cita mendalam. Beliau adalah putra terbaik Kaltim yang telah memberikan dedikasi luar biasa,” ujar Sunggono.

Menurut Sunggono, Awang Faroek Ishak dikenal sebagai sosok visioner yang berjasa besar dalam pembangunan Kalimantan Timur. Salah satu peninggalan monumentalnya adalah proyek infrastruktur jalan tol Balikpapan-Samarinda dan jembatan kembar yang kini menjadi kebanggaan daerah. Bahkan di masa-masa terakhirnya, almarhum tetap menunjukkan semangatnya untuk berdiskusi dan memberikan wejangan kepada keluarga dan kerabat dekatnya.

Kepergian Awang Faroek Ishak menjadi kehilangan besar bagi masyarakat Kalimantan Timur. Namun karya-karyanya akan terus dikenang sebagai bukti dedikasi seorang pemimpin yang tak kenal lelah memperjuangkan kemajuan daerahnya. Semoga segala amal baik beliau diterima di sisi Allah SWT.

“Mudah-mudahan semua yang telah beliau buat dan perjuangankan selama ini menjadi amal ibadah dan diterima di sisi Allah SWT,” tutup Sunggono. (rl)