Tren Jalan Kaki Sore Ternyata Bantu Kesehatan Mental, Bukan Sekadar FYP Sesaat

Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Sore hari menjelang matahari tenggelam, trotoar, taman kota, hingga jalur jogging mulai dipenuhi orang berjalan santai. Sebagian memakai earphone, sebagian menggenggam minuman dingin, dan ada pula yang berjalan tanpa tujuan khusus. Aktivitas yang kini sering disebut healing walk atau sunset walk itu semula terlihat seperti tren media sosial biasa. Namun sejumlah penelitian menunjukkan kebiasaan tersebut menyimpan pengaruh yang lebih besar terhadap kesehatan mental dibanding yang selama ini dibayangkan.

Di media sosial, jalan kaki sore kerap dipotret sebagai cara sederhana untuk “kabur sejenak” dari rutinitas. Banyak orang mengunggah langit senja, hitungan langkah, hingga narasi tentang menenangkan pikiran setelah hari yang melelahkan. Fenomena ini berkembang bukan sekadar karena estetikanya, tetapi karena banyak orang merasa mendapatkan efek nyata setelah melakukannya.

Di tengah aktivitas harian yang padat dan paparan layar yang semakin panjang, kondisi mental masyarakat juga menjadi perhatian. Perasaan lelah, burnout, cemas, hingga pikiran yang terus bekerja tanpa henti mulai menjadi keluhan yang banyak muncul, terutama pada usia produktif.

Di sinilah jalan kaki mulai dipandang lebih dari sekadar aktivitas fisik ringan. Sejumlah peneliti menemukan bahwa berjalan kaki memiliki hubungan positif terhadap kesehatan psikologis seseorang.

Sebuah scoping review yang dipublikasikan dalam British Journal of Sports Medicine menganalisis lebih dari 13 ribu publikasi dan menemukan adanya hubungan positif antara aktivitas berjalan kaki dengan kesehatan mental. Penelitian tersebut menunjukkan jalan kaki berpotensi membantu mengurangi stres psikologis, meningkatkan kesejahteraan emosional, serta berkaitan dengan penurunan gejala depresi dan kecemasan.

Efek itu tidak muncul secara ajaib. Ketika tubuh bergerak, aliran darah menuju otak meningkat dan tubuh melepaskan senyawa seperti endorfin yang sering dikaitkan dengan rasa nyaman. Aktivitas ringan seperti berjalan juga membantu menurunkan ketegangan yang menumpuk setelah seseorang berdiam terlalu lama di depan layar atau menjalani pekerjaan yang menuntut konsentrasi tinggi.

Menariknya, manfaat itu disebut dapat menjadi lebih kuat jika jalan kaki dilakukan di lingkungan terbuka yang dipenuhi unsur alam. Sebuah tinjauan sistematis mengenai nature-based walking interventions menemukan berjalan di area hijau seperti taman, pepohonan, atau lingkungan alami dapat membantu memperbaiki suasana hati, mengurangi kecemasan, serta menurunkan kecenderungan pikiran berulang yang memicu stres. Bahkan dibandingkan berjalan di lingkungan perkotaan yang padat, berjalan di ruang alami menunjukkan manfaat yang lebih besar pada beberapa aspek psikologis.

Hal ini dapat menjelaskan mengapa banyak orang mengaku merasa lebih tenang ketika berjalan menjelang senja dibanding berada di dalam ruangan. Bukan hanya tubuh yang bergerak, tetapi pikiran juga memperoleh ruang untuk beristirahat.

Dalam beberapa pengalaman yang dibagikan pengguna internet, banyak yang menyebut jalan kaki menjadi cara mereka mengelola kecemasan, mengurangi overthinking, hingga membantu tidur lebih nyenyak. Meski pengalaman pribadi bukan bukti ilmiah, pola serupa muncul berulang dalam banyak cerita.

Meski begitu, para peneliti menekankan bahwa jalan kaki bukan pengganti terapi atau penanganan medis untuk gangguan kesehatan mental yang serius. Aktivitas ini lebih tepat dipandang sebagai kebiasaan pendukung yang membantu menjaga keseimbangan psikologis sehari-hari.

Barangkali itu sebabnya tren jalan kaki sore terus bertahan. Sebab di tengah dunia yang berjalan terlalu cepat, sebagian orang mulai menemukan bahwa ketenangan kadang tidak hadir lewat hal rumit melainkan dari langkah-langkah kecil yang dilakukan perlahan menjelang matahari pulang. (Zii)