Musik Lo-fi dan Produktivitas, Benarkah Bisa Bikin Fokus atau Sekadar Kebiasaan Digital?

GUZZ – Di sudut perpustakaan, meja kerja, hingga kamar tidur mahasiswa menjelang tenggat tugas, ada satu suara yang hampir selalu hadir: dentuman drum lembut, suara hujan samar, dan melodi piano pelan yang berulang. Musik lo-fi perlahan berubah dari sekadar genre menjadi “teman kerja” generasi digital. Jutaan orang memutarnya saat belajar, menulis, menggambar, atau bekerja, dengan keyakinan sederhana: musik ini membantu otak lebih fokus.

Fenomena tersebut bukan hal kecil. Siaran musik lo-fi berdurasi panjang di platform video dan layanan streaming mampu mengumpulkan jutaan pendengar setiap hari. Banyak orang mengaku lebih mudah berkonsentrasi ketika mendengar musik dengan ritme tenang dibanding bekerja dalam suasana hening.

Di internet, lo-fi bahkan memiliki citra tersendiri. Musik ini sering dikaitkan dengan produktivitas, deep work, dan suasana belajar malam hari. Namun di balik popularitasnya, pertanyaan yang cukup lama diteliti para ilmuwan masih tetap sama: apakah musik lo-fi benar-benar meningkatkan produktivitas, atau hanya memberi perasaan seolah-olah lebih produktif?

Penelitian menunjukkan jawabannya tidak sesederhana “iya” atau “tidak”.

Sebuah penelitian dalam Psychological Research mengenai pengaruh musik latar terhadap fokus menemukan bahwa musik yang disukai seseorang dapat membantu menjaga kondisi perhatian (attentional state) selama tugas yang membutuhkan fokus berkelanjutan. Namun dampaknya tidak sama pada semua orang. Faktor preferensi pribadi, jenis tugas, dan karakter musik berpengaruh besar terhadap hasil akhirnya.

Temuan lain yang dipublikasikan dalam Scientific Reports pada 2024 menjelaskan bahwa musik latar dapat memengaruhi suasana hati dan tingkat kewaspadaan seseorang saat mengerjakan tugas yang memerlukan perhatian. Perubahan suasana hati dan tingkat rangsangan mental inilah yang diduga berkontribusi terhadap peningkatan performa pada sebagian orang.

Lo-fi sendiri memiliki karakteristik yang cukup unik. Sebagian besar menggunakan tempo relatif stabil, instrumen lembut, dan sering kali tidak menggunakan lirik. Ketiadaan lirik menjadi faktor yang cukup penting.

Penelitian tentang musik latar dan perhatian yang dipublikasikan dalam jurnal Work menemukan bahwa musik dengan lirik cenderung memberikan efek negatif terhadap konsentrasi dan perhatian dibanding musik instrumental. Lirik dapat memicu otak memproses kata-kata tambahan sehingga perhatian menjadi terpecah.

Hal itu menjelaskan mengapa banyak playlist lo-fi populer sengaja menghilangkan vokal utama dan lebih mengandalkan pola ritme yang berulang. Tujuannya bukan menarik perhatian pendengar, tetapi justru menciptakan latar suara yang cukup hidup untuk menutupi gangguan lain tanpa merebut fokus utama.

Menariknya, penelitian dari Indonesia yang dilakukan terhadap siswa juga menemukan bahwa kelompok yang belajar sambil mendengarkan musik lo-fi menunjukkan tingkat atensi lebih tinggi dibanding kelompok tanpa musik. Meski jumlah partisipannya masih terbatas, hasil ini memberi gambaran bahwa musik lo-fi berpotensi membantu proses perhatian pada situasi tertentu.

Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa lo-fi bukan “obat ajaib” produktivitas. Tugas yang membutuhkan pemecahan masalah rumit, membaca teks kompleks, atau aktivitas yang melibatkan bahasa dalam intensitas tinggi dapat menunjukkan hasil berbeda. Pada sebagian orang, musik justru menjadi gangguan tambahan.

Kemungkinan terbesar yang ditemukan para ilmuwan bukanlah lo-fi membuat otak bekerja lebih cepat, melainkan membantu menciptakan kondisi mental yang lebih nyaman untuk bekerja. Musik menjadi semacam pagar suara yang menutupi kebisingan, menjaga suasana hati tetap stabil, dan membuat seseorang bertahan lebih lama pada pekerjaannya.

Barangkali itu sebabnya banyak orang merasa lebih produktif saat ditemani lo-fi. Bukan karena musik tersebut bekerja seperti tombol rahasia yang mengaktifkan kecerdasan, tetapi karena di tengah dunia yang terlalu ramai, sebagian orang hanya membutuhkan suara yang cukup tenang agar pikirannya tidak ikut berisik. (Zii)