Sambut Nyepi, 1.700 Umat Hindu di Kerta Buana Gelar Rangkaian Tradisi Adat dan Pawai Ogoh Ogoh
Teks Foto : Suasana Pengerupukan di Pura Pasupati, Desa Kerta Buana, Kutai Kartanegara. (Rizka/Media Mahakam)
mediamahakam.com, Kutai Kartanegara – Dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1946 yang jatuh pada 11 Maret 2024, 1.700 umat Hindu di Desa Kerta Buana, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) melaksanakan sejumlah rangkaian kegiatan adat sehari sebelum Nyepi, atau biasa disebut Pengerupukan, pada Minggu (10/3/2024).
Rangkaian Pengerupukan diawali dengan Tawur Agung Kesanga yang dilaksanakan pada siang hari, kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan Ogoh Ogoh yang digelar pada sore hingga malam hari.
Kepala Desa Kerta Buana, I Dewa Ketut Basuki menjelaskan setelah melaksanakan persembahyangan di Pura Pasupati, warga akan kembali ke tempat ibadahnya masing-masing dan melanjutkan rangkaian kegiatan adat lain di Pura berbeda, sebelum nantinya akan kembali lagi ke Pura Pasupati pada jam 5 sore untuk mengarak Ogoh Ogoh keliling desa.
“Kita sudah mengadakan persembayangan, dan setelah ini akan kembali ke tempat ibadah masing-masing. Di desa kami ada empat Pura, Pura Pasupati, Pura Dalem, Pura Ratu Gede Empu Jagat, Pura Subak Pandan Sari. Jadi kembali ke adat masing-masing. Setelah itu, jam 5 harus kumpul di sini lagi untuk Ogoh Ogoh sampai selesai,” jelasnya.
Antusias warga Desa Kerta Buana dalam menyambut Hari Raya Nyepi tahun ini sangat luar biasa. Baik umat Hindu maupun non Hindu semuanya tampak menantikan rangkaian kegiatan adat istiadat yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya itu. Terutama saat arak-arakan Ogoh Ogoh dimulai.
Ada 5 patung Ogoh Ogoh yang diarak mengelilingi desa tahun ini. 3 diantaranya yang berukuran besar, dan dua lainnya berukuran lebih kecil. Ogoh Ogoh ini diarak secara gotong royong mengelilingi desa, dan menjadi hiburan tersendiri bagi warga.
I Dewa Ketut Basuki juga mengungkapkan, tingginya tingkat toleransi antar umat beragama di Kerta Buana sangat membantu terlaksananya rangkaian kegiatan tersebut. Selain saat arak-arakan Ogoh Ogoh, bentuk toleransi lainnya terlihat saat Catur Brata dimulai.
Catur Brata merupakan salah satu rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi di mana umat Hindu akan melaksanakan 4 pantangan dan melakukan puasa selama 24 jam. Adapun larangan yang dimaksud yaitu, Amati Lelungan, larangan untuk berpergian ke luar rumah. Kemudian Amati Karya, dimana umat Hindu tidak boleh melakukan kegiatan fisik selain beribadah.
Lalu ada Amati Lelanguan, larangan untuk mengadakan hiburan dengan tujuan bersenang-senang. Serta yang terakhir ada Amati Geni atau larangan untuk menyalakan listrik maupun api. Dan untuk menghormati kegiatan ini, mulai dari malam harinya pemadaman listrik akan dilakukan di sebagian Desa Kerta Buana. Juga selama Nyepi berlangsung, kegiatan masyarakat lainnya yang menggunakan pengeras suara seperti Adzan saja yg diperbolehkan untuk menggunakan sound luar, untuk kegiatan mengaji dan lainnya menggunakan sound dalam.
“Saat Catur Brata kami umat Hindu akan puasa selama 24 jam tanpa menyalakan api, tidak melakukan pekerjaan seperti biasanya, tidak melakukan perjalanan dan hiburan juga akan ditiadakan. Jadi malam ini sudah mati lampu di sebagian tempat kami. Syukurnya di desa kami ini toleransinya luar biasa, seperti adzan saat Maghrib saja menggunakan sound luar, setelah itu ngaji di dalam soundnya,” ungkapnya.
Untuk diketahui, Desa Kerta Buana merupakan desa dengan jumlah penduduk yang memeluk agama Hindu sebanyak 1.700 dari total penduduk 5.291 jiwa. Hal ini merupakan bentuk nyata dari keberagaman dan toleransi tingkat tinggi karena di tengah-tengah perbedaan itu seluruh warga Desa Kerta Buana bisa hidup berdampingan dan saling menghargai satu sama lain.
“Selain pernah dinobatkan sebagai Kampung Pancasila, Kerta Buana ini juga dinobatkan Kemenag sebagai Desa Sadar Kerukunan dan Keagamaan. Dan kami memiliki Forum Kerukunan Umat beragama, jadi setiap ada kegiatan ibadah dan keagamaan selalu kami support dan fasilitasi. Seperti setelah Nyepi nanti, pihak Pemdes juga akan melaksanakan Darmasanti atau silaturahmi antar umat beragama,” ujarnya. (adv/rl/diskominfokukar)






